Sejarah Penulisan dan Penerjemahan Alquran

Salah satu naskah Alquran tertua di dunia. FOTO: liputan6.com/GOOGLE
HISTORIA - Sejak zaman Rasulullah, pengumpulan Alquran telah berlangsung. Tiap kali Muhammad SAW menerima wahyu, beliau membacakannya dan mengajarkannya kepada para sahabat. Tidak lupa, beliau juga meminta untuk menuliskan ayat-ayat yang diajarkan tersebut kepada mereka yang pandai baca dan tulis.

Saat itu, media penulisan berupa pelepah kurma, lempengan batu, dan kepingan tulang. Ketelitian dan hati-hati menjadi dasar bagi para sahabat saat menuliskannya.

Dalam Ensikopedi Islam, yang diterbitkan PT Ichtiar Baru van Hoeve, seperti dilansir dari laman Republika, Rabu (1/2/2017), Rasulullah akan memberi nama pada sebuah surah bila ayat-ayat yang diturunkan cukup untuk satu surah. Hal itu dilakukan guna membedakan satu surah dengan surah yang lainnya. Tidak lupa, penempatan urutan surah dalam Alquran merupakan petunjuk dari beliau.

Baca juga:

Selama 23 tahun Alquran diturunkan, cara pengumpulan seperti di atas tetap dipertahankan. Para sahabat yang menjadi penulis Alquran antara lain Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Tsabit, Amir bin Fuhairah, Muawaiyah bin Abu Sufyan, Zubair bin Awwam, Ubay bin Ka’ab, Khalid bin Walid, dan Amr bin Ash.

Saat itu, para sahabat juga menulis untuk disimpan sendiri. Ada banyak tulisan, namun belum dijilid dalam satu kesatuan atau disatukan dalam sebuah mushaf.

Ketika Abu Bakar terpilih menjadi khalifah pertama menggantikan Rasulullah yang telah wafat, Alquran yang masih dituliskan pada sejumlah media itu, tetap tersimpan di rumah Rasulullah.

Sebuah peristiwa mengubah sejarah pengumpulan Alquran. Sebanyak 70 sahabat yang hafal Alquran menjadi syahid dalam Perang Yamamah. Kekhawtiran mulai muncul, akan banyak lagi sahabat yang hafal Alquran wafat jika kelak perang berkecamuk kembali.

Oleh sahabat Umar, Khalifah Abu Bakar disarankan agar menyusun tulisan-tulisan Alquran dalam satu mushaf. Awalnya Abu Bakar keberatan dengan usulan tersebut, namun akhirnya beliau sepakat setelah diberi penjelasan oleh Umar.

Zaid bin Tsabit menjadi ketua untuk mengemban amanat ini. Zaid kemudian dibantu Ali bin Thalib, Usman bin Affan, dan Ubay bin Ka’ab. Zaid menjadikan tulisan di rumah Rasulullah sebagai pedoman saat menjalankan tugasnya. Sehingga, surah dan ayat yang ia himpun sesuai dengan apa yang telah dilakukan Rasulullah.

Lembaran-lembaran kertas yang ditulis oleh Zaid kemudian disatukan dalam satu mushaf. Mushaf tersebut disimpan di rumah Abu Bakar hingga ia mangkat.

Umar kemudian diangkat menjadi khalifah. Selama itu, mushaf tersebut selalu dalam pengawasannya. Hafsah, putri Rasulullah, kemudian menjaga mushaf itu di rumahnya, setelah Umar wafat.

Sebuah panitia dibentuk oleh Usman, yang saat itu memegang tampuk pimpinan. Panitia itu bertugas menyalin mushaf yang ada di rumah Hafsah dan dialeknya juga diseragamkan, yang dikenal dengan mushaf Usmani.

Ada lima salinan yang dibuat, salah satu mushaf disimpan di Madinah. Saat ini, mushaf tersebut masyhur sebagai mushaf al-Imam. Empat mushaf lainnya dikirim Kufah, Basra, Suriah, dan Makkah.

Pada awal abad ke-8, Alquran mulai diterjemahkan. Cendekiawan Muslim Abu Hanifah menjadi yang pertama kali membolehkan membaca surah al-Fatihah dengan bahasa Persia.

Dilansir dari laman Republika, The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World menuliskan bahwa pada abad ke-11, seiring berjayanya kembali budaya di Iran, dilakukan penerjemahan penuh teks Alquran ke dalam bahasa Persia.

Di masa kontemporer, adalah Abdullah Yusuf Ali yang menjadi penerjemah Alquran ke dalam bahasa Inggris. Sayyid Abu al-A’la Maududi yang merupakan tokoh reformasi Pakistan, menerjemahkannya ke dalam bahasa Urdu. Di Indonesia sendiri, cendekiawan Muslim, Hamka, menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Penerjemahan Alquran sendiri dilakukan selain untuk kepentingan dakwah, juga agar teks Alquran dapat dipahami orang yang tak bisa berbahasa Arab. Penerjemahan Alquran juga merupakan langkah tandingan terhadap misionaris dan orientalis yang pada masa itu menerjemahkannya untuk rezim kolonial. (RED | REPUBLIKA.COM)

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item