Ini Kontroversi Bupati Bima dan BKSDA Soal Trabas HMQ Series II

"Wali Kota Bima Tawarkan Bebaskan Toro Mbala dari Kawasan Konservasi SDA"


Peserta Trabas dari Bali hingga Sumba menikmati suasana Alam di Pantai Pink atau Toro Mbala, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima. GOOGLE/www.bimakini.com
KABUPATEN BIMA - Berbagai upaya sudah dilakukan BKSDA NTB SKW III Bima-Dompu untuk memperingatkan panitia trabas HMQ 2 Series 2 Days, namun tak diindahkan. Terakhir, pihak yang berwenang menjaga dan mengurus kawasan konservasi cagar alam Toro Mbala atau Pantai Pink itu menghadang peserta trabas di pintu masuk kawasan

BKSDA NTB SKW III Bima-Dompu Bambang Dwidarto mengungkapkan, sesuai dengan tanggungjawab dan tugas, sebelum hari pelaksanaan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya, koordinasi dan terus mengingatkan kepada panitia agar jalur trabas bisa dirubah.

Namun, upaya tersebut tidak diindahkan oleh panitia penyelenggara. Tidak berhenti sampai disitu, pada hari pelaksanaan, petugas BKSDA sebanyak 10 orang juga stand by di pintu masuk kawasan dan mencegat peserta trabas untuk melewati jalur kawasan.

“10 orang petugas kita menghadang dan melarang. Kemduian menyampaikan kepada peserta bahwa jalur yang ingin dimasuki merupakan konservasi cagar alam. Tapi jawaban peserta tidak tahu dan tetap melewati jalur tersebut,” ungkapnya, Selasa (5/12/2017) kemarin, dilansir dari www.kahaba.net.


Selaku pelaksana tugas yang diberikan kewenangan untuk menjaga kawasan tersebut kata Bambang, malam hari setelah acara melaprokan ke pimpinan yang lebih tinggi di Provinsi NTB. saat itu juga, pimpinannya menyarankan untuk membuat surat keberatan kepada panitia pelaksana.

“Surat keberatan sudah kami sampaikan kepada panitia. Tinggal nanti pimpinan kami yang akan menindaklanjuti ke Walikota Bima dan Bupati Bima,” katanya.

Menurut Bambang, trabas tersebut tentu berdampak pada ekosistem yang ada di kawasan tersebut. Kedatangan ratusan kendaraan memiliki juga memiliki efek untuk makhluk hidup di wilayah kawasan.

“Daerah itu tempat bertelurnya penyu, tempat turun minumnya rusa, dan kawasan itu sensitif. Kenapa cagar alam itu dibiarkan secara alami, karena kondisi sosial ekologinya harus tetap terus terjaga,” jelasnya.

Satwa yang ada disana juag sambungnya dilindungi. Kenapa demikian, karena populasinya sudah mulai sedikit. jika ratusan motor masuk tentu akan sangat menganggu populasinya.

Bambang juga menyebutkan, BKSDA NTB SKW III Bima-Dompu memiliki kewenangan untuk menjaga dan mengelola 4 kawasan konservasi di Bima dan Dompu. Dua berstatus cagar alam masing – masing berada di cagar alam Toffo Lambu dan cagar alam Sangiang. Sementara dua taman wisata yakni berada di Madapangga dan taman wisata Satonda.

“Kalau bisa, nanti jika ada rencana trabas lagi. Jangan memilih jalur yang sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar alam dan taman wisata,” sarannya.

Ia menambahkan, pihaknya bukan tidak mendukung kegiatan promosi wisata yang digelar oleh pemerintah. Namun aturannya juga jangan diabaikan.

Ini Tanggapan Bupati Bima


Pelepasan Event Trabas HMQ 2 Series 2 Days Sabtu, 2 Desember 2017 lalu di Pantai Ama Hami Kota Bima. GOOGLE/www.oborbima.com
Pemerintah Kabupaten Bima menyampaikan tanggapan soal trabas HMQ 2 Series 2 Days, yang sudah melabrak kawasan konservasi cagar alam Toro Mbala atau Pantai Pink di Kecamatan Lambu.

Bupati Bima melalui Kasubbag Protokoler Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Bima Suryadin menjelaskan, sebelum kegiatan tersebut dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Bima dan Pemerintah Kota Bima sudah melakukan koordinasi intensif dengan pihak BKSDA. Meyakinkan bahwa kegiatan tersebut penting bagi upaya mempromosikan pariwisata.

“Pada kesempatan itu juga disampaikan tidak akan mengganggu ekosistem yang menjadi areal konservasi tersebut,” jelasnya kepada media ini, Selasa (5/12/2017) dilansir dari www.kahaba.net.

Menurutnya, untuk menuju kawasan Toro Mbala atau Pantai Pink, tidak ada alternatif selain melalui jalan tersebut. Sementara rute tersebut sebenarnya bukan rute yang baru sama sekali, tapi sudah dirintis oleh warga setempat.

Kemudian sambungnya, beberapa hari setelah penetapan jalur baru diketahui status kawasan tersebut. Sementara informasinya soal kegiatan itu sudah disebar, baru diketahui bahwa kawasan tersebut merupakan wilayah konservasi.

“Artinya juga, memang minim informasi yang berkaitan dengan status kawasan tersebut,” tuturnya.

Namun demikian, kedepan pengelolaan kawasan tersebut di satu sisi harus tetap melindungi kawasan konservasi. Namun disisi lain juga harus dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat setempat. Misalnya menjadikan kawasan tersebut sebagai taman wisata alam.

“Untuk upaya ini pemerintah daerah akan melakukan dan mendorong pemerintah pusat agar dapat dilakukan perubahan status sehingga akan dapat dikelola dan dimanfaatkan secara optimal,” terangnya.

Ini Pandangan Wali Kota Bima

Wali Kota Bima menggelar rapat bersama jajaran pejabat Pemkab Bima membahas kegiatan HMQ series II belum lama ini.  GOOGLE/www.oborbima.com
Pada sisi yang lain. Sebelumnya, saat memimpin rapat pemantapan event Trabas HMQ 2 Series 2 Days di kantor Walikota Bima, Selasa 28 November 2017, Wali Kota Bima H. M. Qurais H. Abidin mengatakan, memberi dukungannya terhadap pembangunan dan pengembangan obyek wisata di Kabupaten Bima. Salah satunya adalah membebaskan  Pantai Toro Mbala atau Pantai Pink dari kawasan konservasi sumber daya alam.

“Saya bersedia membantu dan bila perlu menghadap Bapak Presiden RI Joko Widodo, untuk mengupayakan pantai Toro Mbala dikeluarkan dari kawasan konservasi untuk kepentingan Pariwisata,“ ungkap Qurais dihadapan peserta rapat dari pejabat Pemkab maupun Pemkot Bima, dilanisir dari www.oborbima.com.

Dikatakaknnya, Toro Mbala adalah, potensi besar bagi Kabupaten Bima, di samping Gili Banta, Pulau Sangiang, Pulau Kelapa, Lariti dan sejumlah obyek wisata lainnya. Kabupaten Bima harus terus tumbuh demikian pula dengan Kota Bima yang harus terus tumbuh maju.

“Event trabas ini, adalah awal yang baik untuk menjadikan kedua pemerintahan ini, saling mendukung dan saling mem-back up. Bima itu satu, adapun keberadaan Kota dan Kabupaten Bima hanyalah pemisahan kewenangan saja," kata Qurais. 

Menurutnya, Trabas Home Motor Quick (HMQ) 2 series 2 Days, akan melewati sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Bima, mulai dari Uma Lengge Wawo, Pesanggrahan, Pantai Lariti, Pantai Toro Mbala, Pantai Sambane di Langgudu,

"Kami juga akan melewati Sambori dan obyek wisata alam lainnya yang ada di Kabupaten Bima," ungkap Wali Kota. (RED | WWW.KAHABA.NET | WWW.OBORBIMA.COM)

Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

Instal Metromini di Android Anda

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

item