Kisruh Torombala, LSM GERYLIA Kecam Bupati Bima

Seorang peserta berkendara di atas pasir saat event trabas HMQ series II di Pantai Pink (Torombala), Sabru, 2 Desember 2017 lalu. METROMINI/Dok 
KABUPATEN BIMA - Ketua Lsm Lingkungan GERYLIA (Gerakan Rakyat Peduli Lingkungan) NTB, Farid Fadli menyesalkan kegiatan Trabas HMQ series II yang masuk ke kawasan konservasi cagar alam Pantai Pink atau Pantai Torombala di Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Sabtu, 2 Desember 2017 lalu.


Menurutnya, pihaknya sepakat denan telah dilayangkannya surat peringatan oleh BKSDA selaku penanggungjawab kawasan konservasi kepada panitia Trabas dan juga Pemerintah Kota serta Kabupaten Bima yang mendukung acara tersebut secara penuh. Pasalnya, masuknya 700 motor trail di kawasan itu, tentu saja akan berdampak pada ekosistem dan originalitas alami yang ada di kawasan yang selalu dijaga sebagai bersemayamnya binatang yang dilindungi.

"Kami sangat menyayangkan dengan kegiatan trabas yang menerobos masuk dengan motor ke kawasan Torombala. Jumlah motor yang lebih dari 700 buah tentu saja mengganggu ekosistem di sana. Apalagi, oleh oknum trabaser yang bermalam di pantai pink diduga mengeksploitasi keindahan pantai dengan adegan yang tak senonoh," tutur dia.

Selain itu, keberadaan sampah pasca ditinggalkannya ratusan trabaser tentu sama halnya menghadirkan limbah di kawasan yang mestinya menjadi tanggung jawab semua pihak terutama pemerintah untuk menjaganya.

"Untuk itu, sebagai kawasan konservasi yang dilindungi oleh negara melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang juga termaktub dalam UU Nomor 05 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam adalah kewajiban seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga keasliannya," ucap pemuda asal Kecamatan Sape, Kabupaten Bima itu.

Adegan tak senonoh yang dilakukan oknum trabaser saat kegiatan trabas HMQ series II di Pantai Pink (Torombala), Sabru, 2 Desember 2017 lalu. METROMINI/Dok 
Ia menjelaskan, kelestarian dan menjaganya kawasan Torombala dari berbagai persoalan yang dianggap merusaknya adalah pelanggaran terhadap UU. Dan soal ini, menurut dia, kini sedang menjadi pembahasan berbagai pihak pemerhati lingkungan konservasi,

"Kita ketahui bersama bahwa ada event trabas beberapa hari yang lalu, yang diduga kuat telah merusak kawasan konservasi dengan melewati kawasan dengan kendaraan roda dua oleh ratusan peserta event trabas. Dan mengingat kegiatan tersebut diselenggarakan dan dilegitimasi oleh pemerintah, Maka sikap Bupati Bima yang sejauh ini tidak memberi sikap yang kooperatif dalam persoalan ini pantas untuk dikecam dan dijuluki sebagai penggagas pengrusak Torombala," jelas dia.

Jika Bupati Bima selaku pimpinan wilayah tidak mengambil sikap, kata dia, tentunya selaku pemerhati lingkungan konservasi pihaknya tidak akan tinggal diam. Dia mengaku, selain mengecam kegiatan yang juga disponsori oleh BUMN di Bima ini, upaya langkah hukum pun jika dipandang perlu akan dilakukan.  

"Kami mengecam siapapun yang berkaitan dengan penyelenggara kegiatan trabaser yang diduga kuat telah merusak kawasan konservasi tersebut. Kawasan Torombala bukan untuk dirusak melainkan untuk dijaga keindahannya. Karena itu potensi besar bagi Pemkab Bima untuk dijadikan salah satu spot wisata alam yang dinikmati secara santun dan tidak dengan kegiatan hura-hura," tutup Farid.

Seperti diberitakan sebelumnya, antara BKSDA dan pihak Pemkab Bima pun menuai kontroversial dalam kaitannya dengan pemberitaan ini. (RED)


Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item