Radikalisme dan Propaganda Membendung Kebangkitan Islam



Ilustrasi. GOOGLE
Oleh: Marhamatul Khairiyah

OPINI - Kelompok fundamentalis (radikal), tradisionalis, modernis (moderat) dan sekular sudah tidak asing di telinga masyarakat, khususnya di tengah kaum intelektual, akademisi dan ulama. Secara tidak sadar, pengelompokan berdasarkan nama atau lebih tepatnya stempel tersebut adalah strategi pertama dalam upaya pecah belah umat islam yang hingga detik ini terus digulirkan. 

Hal ini dinyatakan dalam dokumen RC (Rand Corporation) berjudul “Building Moderate Muslim Networks”, dan “Civil Democratic Islam—Partners, Resources and Strategies” (2007).

Rekomendasi dari lembaga think-thank neo conservative AS ini adalah dengan mengangkat satu sisi dan menginjak satu sisi, memegang satu pihak dan menjatuhkan pihak lain. Itulah politik belah bambu. Dalam banyak kesempatan misalnya, upaya pemenangan kelompok moderat dilakukan melalui propaganda deradikalisasi atau “gerakan anti radikalisme” dengan pembenturan antar kelompok, yakni antara kelompok tradisionalis dengan kelompok yang dianggap fundamentalis atau radikal.

Radikal sendiri telah menjadi kata yang memiliki frame menakutkan di mata masyarakat.  Frame itu dibentuk melalui media-media politik negara dan agenda-agenda deradikalisasi. Kata radikal identik dengan ekslusif, terorisme, dan gerakan pengganti ideologi negara. 

Negara pun melakukan berbagai upaya penangkalan kuat terhadap gerakan dan aktifitas apa saja yang bernuansa radikal seperti membentuk Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan lain-lain. Tidak jarang pula terlihat suatu kelompok membubarkan forum kelompok atau individu kelompok lain atas nama pemberantasan radikalisme atau demi menjaga NKRI dan Pancasila.

Dua orang petinggi negeri yakni presiden dan wakil presiden pun kompak latah menggunakan istilah ini dan mengkotak-kotakkan kaum Muslimin di Indonesia. 

"Tantangan dari keislaman itu terutama radikalisme, pikiran yang berlebihan karena pikirannya cuma satu, surga," ujar wapres Jusuf Kalla dalam sambutannya saat menutup Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (25/11/2017). 

Pada agenda yang sama, Presiden Joko Widodo pun menyampaikan bahwa ia telah meminta jajaran menteri Kabinet Kerja untuk menindak tegas terhadap aliran radikal dan intoleran yang ada di Indonesia. 

"Saya sudah minta kepada seluruh jajaran pemerintahan agar tegas dan tidak memberikan toleransi terhadap aliran aliran radikal, aliran-aliran yang intoleran yang ada di negara kita, apa pun organisasinya," ungkap beliau.

Selain menyerang para penguasa negeri, “fiqih” ala Rand Corporation ini pun menginvasi para ulama dan kaum intelektual, baik dari kalangan masyarakat umum maupun mahasiswa. Ulama disibukkan pada perbedaan furu’iyah yang berpotensi menimbulkan persinggungan antar kelompok. 

Ilustrasi. GOOGLE
Tokoh intelektual seperti dosen, professor dan para ahli disibukkan dengan riset yang diiming-imingi keuntungan materi—uang—dalam jumlah yang fantastis, yang tidak bisa didapatkan jika hanya bermodal mengajar di kelas. Yang lebih miris adalah mahasiswa, bahwa mereka yang sejatinya adalah agen perubahan dan estafet kebangkitan ini disibukkan dengan konsep pendidikan materialistis dan kegiatan bernuasa have-fun.  

Jaket almamater bertebaran di televisi bukan dalam program yang edukatif tapi bercampur dengan penonton alay dalam program-program lawak yang hanya mengutamakan rating dan sharing. Menjadi wajar jika yang tercipta adalah generasi antipati politik dan masalah masyarakat. Ketika mereka pun melakukan aksi protes hanya bersifat sementara karena bermodal perasaan sesaat, bukan idealisme dan pemahaman yang mantap.

Karena disibukkan dengan itu semua, mereka tidak menyadari bahaya dari propaganda konsep radikalisme ini, sehingga mengambilnya mentah-mentah dan menjadikannya pedoman dalam memandang serta menyikapi kaum Muslimin masa kini. 

Justru radikalisme distempelkan pada kelompok atau individu yang menginginkan perubahan, menginginkan persatuan, kembali pada aturan Pencipta, menolak ikatan emosional dan kritis atas kebijakan zalim penguasa. Para ulama pun menjadi gagal fokus dan tidak jarang mereka menjadi kepanjangan tangan stigmatisasi negatif terhadap perjuangan Islam.

Sejatinya, musuh utama dan bersama baik organisasi maupun individunya serta masyarakat adalah sekularisme yang melahirkan liberalisasi, swastanisasi, serta kapitalisasi berbagai lini kehidupan masyarakat. Pada isu inilah seharusnya umat fokus, seharusnya umat menggempurnya dan ingin menggantinya dengan syariat Islam. 

Umat Islam, melalui tangan para ulamanya harus menyadari bahaya dari ketiga ide kufur, termasuk timbulnya perpecahan di kalangan umat Islam. Bercerai berai dan menyebabkan perpecahan adalah dosa, baik perpecahan berupa benturan antar organisasi maupun terpisahnya wilayah dari kaum muslimin, seperti separatism yang didengungkan di beberapa daerah di Indonesia. 

Bersikap keras terhadap orang kafir dan lemah lembut kepada sesama muslim adalah tindakan yang sudah jelas berdasar sabda Rasulullah SAW.

Menurut Dr. Abdul Halim Mahmud, tidak menjerumuskan saudara pada sesuatu yang buruk, mencegahnya dari perbuatan dosa dan kejahatan, menolongnya menghadapi pihak yang menghalanginya dari jalan kebenaran, hidayah dan dakwah, mencegah perbuatan zalim yang disebut dengan tanashur adalah salah satu cara yang bisa ditempuh untuk menjalin kembali ikatan persaudaraan ditengah kaum muslimin. 

Ilustrasi. GOOGLE
Untuk semakin menguatkan, sikap toleran (tasamuh) harus tertanam dalam diri kaum muslimin. Toleransi di sini adalah toleran dalam perkara cabang, perkara yang dimungkinkan dan dibolehkan berbeda. Sedangkan dalam masah prinsipil yakni akidah dan keimanan, tidak ada kata toleransi.

Maka, para ulama seharusnya menjadi garda terdepan dalam menolak liberalisasi dan kapitalisasi (neo-kolonialisme) dan mempelopori persatuan umat, memperkuat ukhuwah untuk mewujudkan peradaban terbaik. Tidak layak merek sebagai pewaris para nabi, justru termakan propaganda pecah belah umat melalui label radikal. 

Karena sejatinya, keselamatan suatu negeri ditentukan oleh ulamanya. Pun, jangan lupakan, pengusiran penjajah yang berabad-abad dikobarkan oleh para ulama. Maka terwujudnya peradaban gemilang penuh persatuan yang niscaya berada ditangan para ulama, pewaris para nabi.

“…akan tetapi kalian tidak mengingkari berbagai keharaman yang disepakati keharamannya, seperti zina, judi, dan minum minuman keras. Jika demikian, maka kalian tidak memiliki ghirah (kecemburuan membela Din-pen.) untuk Allah di dalamnya. Ghirah kalian hanya untuk al-Syafi'i dan Ibn Hajar, sehingga hal ini menyebabkan perpecahan kalian, terputusnya silaturrahim, penguasaan orang-orang jahil terhadap kalian dan jatuhnya wibawa kalian di mata orang banyak. (Petuah KH. Hasyim Asy’ari). ***

______
Penulis adalah  seorang Guru dan Pemerhati Isu Politik.

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item