Ratu Ageng Jadi Permaisuri Sultan HB I Yogyakarta. "Putri Sultan Bima itu Nenek Buyut Pangeran Diponegoro"

Ilustrasi Rau Ageng, Putri Sultan Bima yang menjadi Permaisuri di Kesultanan Djogjakarta. GOOGLE.
"Teguhnya Pendirian Ratu Ageng, 

Ia Rela Keluar Istana Demi Agamanya"

HISTORI - Membahas tentang wanita perkasa di Nusantara, ternyata ada banyak nama yang dimiliki negeri ini yang memiliki peran emansipasinya di masa kerajaan di Abad 17. Salah satunya Kanjeng Ratu Winarni/Pan Tanen Remenipun/Sinambi Lan Ngibadah/Kinarya Namur Puniki/Lampahira Gen Brongta Marang Yang Sukma.

Dilansir dalam salah situs www.matahati01.wordpress.comdi tahun 1790--dalam usia enam puluhan tahun, puteri Kiai terkemuka di Kabupaten Sragen, Ki Ageng Drepoyudo memilih meninggalkan Istana Ngayogyakarta. Keputusannya itu tak bisa dipenggak, tak bisa dihalang-halangi. 

Wajarlah itu. Wanita yang sekira dilacak silsilahnya masih bersambung ke Sultan Bima pertama, Sultan Kahir I (1621-1647)--Pendiri Kesultanan Islam di bagian timur Pulau Sumbawa. Ki Ageng Drepoyudo memiliki jiwa yang tegas dan berkemauan keras. Sebagai puteri seorang kiai dari keturunan Kesultanan Islam di Sumbawa dan juga selaku permaisuri Sultan Hamengkubuwana I, tentulah ia amat teguh dalam memegang prinsip beragama. Dan memang demikiankah beliau. 

Ratu Ageng Tegalrejo atau Ratu Ageng, demikian beliau selanjutnya sering disebut. sejak tahun 1790, setelah beliau memilih menetap di sebuah desa di sebelah Tenggara keraton, di Tegalrejo yang dapat ditempuh selama satu jam jalan kaki dari keraton. 

Dan  kepergiannya dari keraton boleh dibilang sangat mendadak. Beliau putuskan meninggalkan keraton pada awal pemerintahan puteranya, Raden Mas Sundoro, yang kemudian naik tahta dan bergelar Sultan Hamengkubuwana II. 

Anak laki-laki yang dilahirkannya pada 7 Maret 1750 ketika pasukan suaminya, Pangeran Mangkubumi istirah sejenak di lereng Gunung Sindoro di Kedu, selama beliau membersamai sang suami dalam perang Giyanti (1746-1755) melawan Belanda. 

Menelisik perjalanannya hingga penggalan Maret 1750 inipun kita dapat menduga bahwa Ratu Ageng adalah wanita kuat dan tegar. Dapatkah kita bayangkan seorang wanita yang hamil serta melahirkan di tengah-tengah peperangan, kecuali ia seorang yang amat tangguh? Keputusannya untuk meninggalkan keraton pun bukan tanpa alasan. Alasan Ratu Ageng meninggalkan keraton dan memilih tinggal di luar tembok istana dapat terbaca dalam tembang Sinom yang termaktub dalam Babad Diponegoro: 

Kanjeng Ratu Geng winarni/pan asring selaya neki/lan kang putra pribadi/dadya mutung adhudhukuh/babat kang ara-ara/mapan lajeng den dalemi…

(Perihal Ratu Ageng/betapa sering beliau berselisih/dengan putranya sendiri/maka ia kecewa lalu pergi/membuka lahan baru/tanah-tanah terlantar digarapnya/lantas menetap tinggal di sana…)

Ya, bersebab Ratu Ageng tak bersepaham dengan gaya hidup putranya, Sultan Hamengkubuwana (HB) II, yang dinilai mulai berani menyepelekan perintah agama. 

Ilustrasi. GOOGLE/www.gembolransel.com
Sang Raja juga diamati Sang Ibu amat jarang mengunjungi Masjid Agung, tempat ibadah resmi para Sultan Yogya. Kiranya Ratu Ageng amat kecewa dengan kehidupan di keraton yang mulai permisif dengan pengaruh Belanda serta persengkokolan yang meretakkan kekerabatan.

Di Tegalrejo, Sang Ratu memilih bertani. Bekerja mengolah tanah, menyiangi tanaman, dan berpayah-payah saat memanen. Seperti terbaca dalam tembang Sinom di awal tulisan ini, Sang Ratu senang bertani, sambi tetap istiqamah beribadah. Ia tunaikan semuanya tanpa pamrih (kinarya namur puniki). 

Ketika pada akhirnya Tegalrejo berubah menjadi daerah yang makmur nan sejahtera, mulailah berduyun-duyun orang mendatanginya. Para santri pun banyak pula yang bertandang untuk menuntut ilmu. Tegalrejo menjadi magnet yang menarik untuk dikunjungi. Inilah kisah Sang Ratu yang memilih terus berbuat, meski usianya yang sepuh menuntut beliau beristirahat.

Sang Ratu rupanya tak hanya mahir olah kanuragan; berkuda, memainkan panah, membidik dengan bedil, atau menggunakan patrem, sebagai kemampuan dasar panglima prajurit estri Keraton Ngayogyakarta; beliau — sebagaimana dituturkan Peter Carey dalam “The Power of Prophecy” (2007) — sangat cermat mengelola setiap perniagaan yang dijalaninya, selain tentu kemampuannya dalam bercocok tanam.

Hidup beliau seakan tak pernah sepi dari aktivitas kebaikan. Sampai pada suatu hari di bulan September 1803, Sang Ratu mesti istirahat cukup lama. Demam yang amat tinggi menyerangnya, setelah sebelumnya beliau tercebur ke dalam salah satu tambak miliknya di Tegalrejo. Dalam masa istirahat itu, Ratu Ageng sayup-sayup mendengar Gunung Merapi di utara mulai meletus sejak 22 September 1803 itu. 

Dalam kondisi mencekam karena letusan Merapi, Sang Ratu dipindahkan ke kediaman putra mahkota di Yogya. Kondisinya mulai membaik pada awal Oktober 1803 itu.

Pada sepotong Oktober itu ia sempatkan menasihati putranya, Sultan kedua. Suaranya masih terdengar lemah, tapi nasihatnya amat kuat bertenaga. “Sultan,” demikian beliau memulai perbincangan, “jalan yang kutempuh tidaklah mudah. Sekarang aku merasa bahwa diriku tak lebih dari seorang rakyat biasa.” Sang Ratu menghela nafas sejenak. Ia pandangi sang putra dengan sepenuh cinta. Sorot matanya tajam berwibawa.

“Anakku,” kata Sang Ratu melanjutkan nasihatnya, 

“Camkanlah hal itu dan jangan percaya bahwa meskipun kamu sekarang adalah seorang raja, setelah kamu mati kamu akan lebih tinggi daripada seorang batur (hamba jelata)."

Maka, hiduplah sesuai dengan itu!” Sang Ratu hingga di bukan Oktober itu tetap berteguh sikap bahwa harapan pada sang putra agar tetap berpegang teguh pada prinsip agama tidak sedikit pun pudar. 

Janganlah kamu percaya, demikian tutur nasihat beliau, bahwa setelah kematian seorang raja akan tetap menjadi raja. Tidak. Setelah kematian, seorang raja akan menjadi hamba di hadapan Allah, sebagaimana mestinya ia dipahami selama masa hidupnya pula. Sekalipun menjadi raja, kita tetaplah hamba di hadapan Allah ta’ala.

Dan pada tanggal 17 Oktober 1803 sore hari; wanita perkasa itu kembali ke hadirat Penciptanya. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman kerajaan di Imogiri; diantarkan iring-iringan yang panjang. Cucu buyutnya yang ia didik selama di Tegalrejo tertunduk mengiringi; Diponegoro, saat Sang Ratu meninggal usianya baru delapan belas tahun

Di tangan sang cucu buyutlah seluruh rintisan di Tegalrejo mesti dilanjutkan. Dan benar saja, pada sang cucu buyutlah harapan besar panglima prajurit estri kesultanan Yogya ini disematkan.

"Ratu Ageng Nenek Buyut Pangeran Diponegoro"

Ternyata, tidak jauh dari sejarah Pangeran Diponegoro sang pencetus Perang Jawa tersebut. Dilansir dari www.akarasa.com, sekitar 231 tahun yang lalu di salah satu sudut ruang kaum perempuan dalam Keraton Yogyakarta; Raden Ayu Mangkarawati yang ketika itu masih terhitung belia, masih berusia 14 tahun menggeliat menahan sakit melahirkan. Hari menjelang fajar ketika suara tangis itu memecah senyap. Jumat Wage, 11 Nopember 1785 seorang calon pemimpin besar lahir ke dunia. Bayi lelaki, putera sang fajar, yang kemudian diberi nama Raden Mas Ontowiryo ini adalah sulung dari Raden Mas Surojo (kelak adalah HB III) yang ketika itu masih berusia 16 tahun.

Kita tidak perlu kaget, pada masa itu secara umum masyarakat Jawa termasuk kalangan bangsawan menikah di usia muda adalah hal yang lazim. Maka tidak mengherankan jika kemudian anak yang dilahirkan dari pernikahan dini tersebut kemudian diasuh oleh nenek atau bahkan nenek buyutnya. Seperti halnya, bayi Ontowiryo yang kemudian diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng. Nah, sosok wanita tangguh inilah yang akan kita telusuri lebih jauh pada tulisan kali ini.

Ilustrasi. GOOGLE
Di balik setiap pahlawan besar selalu ada seorang perempuan agung, rasanya kita tidak asing dengan pepatah ini, bahwa selalu ada wanita tangguh dibalik kehebatan seorang pria. Maka tidak berlebihan jika dalam hal ini kita menyebut nama Ratu Ageng ini adalah pembentuk kepribadian seorang Ontowiryo hingga kemudian mewarnai lembaran sejarah bangsa ini. Cucu Buyut kesayangan HB I yang telah diramalkan oleh sang kakek buyut, satu hari nanti akan memusingkan pemerintah Hindia Belanda ini; di kemudian hari lebih dikenal dengan Pangeran Diponegoro. Sayangnya, karena kebesaran nama Diponegoro sang cucu buyutnya ini seakan nama besarnya tenggelam oleh sosok pria yang tak pernah lepas dari didikannya.

Ratu Ageng nama yang mirip dengan nama pahlawan Nyai Ageng Serang tapi dua wanita ini adalah beda orang. Ratu Ageng atau seringkali disebut juga Ratu Ageng Tegalrejo ini bukanlah wanita baen-baen (sembarangan). Wanita pendidik yang lahir pada tahun 1735 ini adalah seorang permaisuri dari Sultan Hamengku Buwoni I, dan juga wanita yang melahirkan Sultan Hamengku Buwono II dan ia juga merupakan nenek buyut Ontowiryo.

Belum cukup hanya itu saja, ia juga merupakan seorang Panglima Bregada Langen Kesuma. Bregada Langen Kesuma ini semacam kesatuan pasukan elit khusus perempuan pengawal raja, seperti hanya Trisat Kenya di zaman Amangkurat I yang fenomenal karena kejamnya itu.

Meski personilnya semua dari kaum Hawa, jangan berpikir mereka ini lebay meminjam istilah anak muda jama sekarang. Bregada Langen Kesuma merupakan kesatuan khusus pengawal raja yang sangat tangguh. Meskipun semua anggotanya perempuan, namun pasukan berkuda ini dilengkapi dengan senjata api laras panjang dan pendek, pedang, keris, tombak, trisula, dwisula, dan lain sebagainya. Keterampilan mereka dalam olah senjata dan olah kanuragan jangan diragukan lagi. Misal sampeyan suit-suit mereka ini, salah – salah kena gibeng saja masih untung!

Anggapan diatas bukan hanya mitos atau legenda semata, setidaknya kehebatan Bregada Langen Kesuma ini diakui oleh Daendels saat berkunjung ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada bulan Juli 1809. Ceritanya, dalam acara penyambutan Daendels Bregada Langen Kesuma ini memperagakan salvo senapan dan meriam yang dipergilirkan dengan sempurna. Markas dari kesatuan istimewa ini berada di Pesanggrahan Madyaketawang. Lapangan latihan menembak bagi pasukan ini berada di alun-alun Pungkuran, di selatan kraton. Untuk lebih lanjut tentang Bregada Langen Kesuma ini di lain kesempatan kita akan membahasnya lebih jauh.

Bobot – bibit - bebet, saya yakin kata tersebut tidak asing indera dengar kita. Tiga kata dalam satu kesatuan tersebut adalah filosofi Jawa yang berkait erat mecari jodoh atau pasangan hidup. Lazimnya ini dipakai untuk memperoleh gambaran tentang kriteria calon pasangan hidup menurut pandangan orang Jawa.

Bukan karena tipikal pemilih atau mengkotak-kotakkan manusia. Berkenaan dengan pasangan hidup, orang Jawa terkesan sangat berhati-hati , meski tidak terlalu selektif dalam mencari siapa yang akan bersanding sebagai garwo (sigare nyowo) ing geghayu bahteraning urep (dalam mengarungi bahtera kehidupan) dalam kesetiaan sampai kiki nini koyo’ mimi lan mintuna.

Dalam pengertian umum, ada tiga perkara yang tidak akan terjangkau untuk diketahui manusia yakni, mati, jodoh, dan rejeki. Namun bagi masyarakat Jawa, setidaknya ada lima perkara yang mana manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti akan nasib dalam perjalanan hidupnya ; siji pesthi (mati), loro jodho (jodoh), telu wahyu (anugerah), papat kodrat (nasib), dan lima bandha(rejeki).

Merujuk dari filosifi bobot – bibit – bebet di atas tak lain adalah, dalam hal memilih pasangan hidup yang ideal bagi masyarakat Jawa adalah salah satu bagian terpenting dalam perjalanan hidup ketika berumah tangga dan berketurunan. Sebab kesalahan memilih pasangan yang dinikahi dapat berdampak buruk pada kualitas hidup pribadi, anak, dan keluarga di masa depan. Bahkan ada pepatah mengatakan, “Malapetaka besar yang dialami oleh seseorang adalah ketika ia salah memilih siapa yang menjadi pasangan hidupnya”.

Dalam konteks Ratu Ageng ini, filosofi Jawa diatas semuanya komplit ada pada dirinya. Bagaimana tidak, selain yang sudah saya narasikan di atas jika ia adalah seorang permaisuri sekaligus dari rahimnya terlahir seorang Nata. Hal ini tidaklah mengherankan, karena Ratu Ageng ini adalah anak perempuan dari seorang kyai masyur pada jamannya, yakni Kyai Ageng Derpoyudho dari Majangjati, Sragen. Lumrah adanya selain karena kecerdasannyam Ratu Ageng ini terkenal karena alimnya.

Ilustrasi. GOOGLE
Jika kita telisik lebih jauh lagi tentang silsilah Ratu Ageng ini, bisa jadi ada pengetahuan yang benar-benar baru dan baru kita ketahui. Kyai Ageng Depoyudho ini adalah putera dari Kyai Ageng Datuk Sulaiman atau sering disebut juga Kyai Sulaiman Bekel yang lahir sekitar tahun 1601, ia adalah anak tertua dari Sultan Abdul Kahir. Leluhur Ratu Ageng dapat dilacak dari sisi ibunya hingga ke Sultan Bima Pertama Abdul Kahir, Sumbawa, yang telah menghabiskan banyak waktu di Jawa untuk mendalami ilmu agama di pesantren-pesantren. Pada kesempatan lain kita akan membahasnya, biar lebih mudah untuk kita menguarainya.

Kasih sayang sang permaisuri yang tercurah terhadap cucu uyutnya ini bertolak belakang dengan anaknya sendiri, Raden Mas Sundoro. Bahkan bisa dikatakan hubungan ibu dan anak ini tidak akur. Lazimnya seorang ibu yang berharap anaknya berbudi pekerti yang baik, hal ini disalah pahami oleh Sundoro (kelak adalah HB II) yang dididik secara keras sesuai tuntunan agama. Tapi begitulan manusia, apapun latarbelakangnya, apakah dari trah bangsawan atau rakyat jelata selalu ada saja yang mbeling.

Karena hubungan ini pula yang mendasari keluarnya Ratu Ageng dari lingkungan keraton ketika suaminya, Hamengku Buwono I mangkat pada tahun 1792 yang kemudian tahtanya diwariskan pada anaknya Raden Mas Sujono ini. Ia lebih memilih tinggal di sebuah dusun kecil sejam perjalan kaki dari keraton, yakni Tegalrejo. Meskipun ia juga tahu jika Raden Mas Sujono pun sangat membenci Belanda. Tapi apa boleh buat, gaya hidup anak kesayangannya tersebut bahkan mengalahkan orang Belanda itu sendiri. Ontowiryo yang masih bocah pun diboyongnya dan hidup ditengah-tengah wong cilik, rakyatnya sendiri.

Bisa jadi, karena dibesarkan dalam lingkungan wong cilik atau rakyat kecil, maka dalam jiwa bocah Ontowiryo tumbuh rasa kepedulian yang sangat besar kepada orang-orang kecil. Apalagi dalam keseharian, Ontowiryo melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa seorang Ratu Ageng, permaisuri seorang raja, tidak merasa rendah ketika harus bergaul dengan kawulo alit.

Pun, ketika bocah Ontowiryo tanpa canggung membantu nenek uyutnya yang seorang ibu suri ini tangannya belepotan lumpur demi menghidupinya. Bahkan, keteguhan Ratu Ageng yang tidak mau menerima bantuan keuangan dari keraton sangat tertanam kuat dalam alam pikir Ontowiryo yang terbawa hingga akhir hayatnya.

Sebagai wanita ningrat yang terbilang cerdas, hal ini sangat beralasan karena Ratu Ageng sangat gandrung pada literatur-literatur keagamaan, sejarah, dan juga sastra, sehingga rumahnya yang sederhana di Tegalrejo bagaikan sebuah perpustakaan kecil. Sebaliknya, terhadap harta benda, Ratu Ageng tidak begitu terobsesi. Bahkan, dalam satu riwayat mengatakan Ratu Ageng ini hanya memiliki barang-barang primer yang memang dibutuhkan dalam rumah tangga seperti kebanyakan orang.


Ilustrasi. GOOGLE/www.gembolransel.com
Dalam pembentukan watak spiritual Ontowiryo, pola pengasuhan Ratu Ageng terhadap cucu uyutnya ini sangatlah keras. Sejak kecil Ontowiryo telah diajarkan mengenai keislaman dan adat istiadat Jawa tradisional. Hal yang sangat ditanamkan pada diri pangeran kecil mengenai nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan.

Dari Ratu Ageng inilah menjadikan Ontowiryo tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan diskusi keagamaan. Selain itu wilayah Tegalrejo ketika itu pun sudah merupakan daerah yang kental dengan budaya pesantren. Hingga akhirnya pendidikan yang diterima oleh Diponegoro jauh lebih intensif dibandingkan anak-anak dari keluarga ningrat pada umumnya.

Tidak hanya itu banyak kitab-kitab yang dipelajari oleh Pangeran Diponegoro, diantaranya Kitab Tuhfah berisi ajaran sufisme, kitab-kitab ushul Fiqh, teks-teks Islam-Jawa yang berisi moral dan dasar-dasar sastra Jawa, beliau juga mempelajari syair-syair Jawa dan materi ketatatanegaraan serta kerajaan. Salah satu gurunya adalah Kyai Taptojani yang kelak dikemudian hari sebagai penasihat utama untuk urusan agama Diponegoro.

Berkat nenek buyutnya Diponegoro belajar banyak perihal disiplin diri, ketaatan beragama, dan kemampuan atau kepekaan untuk membaur dengan semua kelas masyarakat Jawa. Hidup di Tegalrejo juga mengajarkannya keuntungan yang diraih dari sikap menjaga diri dari lingkungan Keraton Yogyakarta, masuk ke dalam dunia batin sendiri secara intensif, menjadi seorang pecinta kesunyian dan nilai hidup bahwa kedamaian batin itu datang dari olah tapa dan refleksi diri dalam keheningan.

Nah, dipenghujung akhir tulisan ini, ada satu simpulan bahwa pengaruh Ratu Ageng inilah yang mempunyai andil besar dalam pembentukakan kepribadian Diponegoro. Pengalaman agama yang mendalam dan pengaruh yang kuat serta hubungan Ratu Ageng yang luas dengan komunitas-komunitas santri di Jawa Tengah secara tidak langsung memberikan satu kemudahan tersendiri bagi Diponegoro dalam usaha mewujudkan cita-citanya. Membebaskan orang Jawa dari intervensi dan kolonialisasi bangsa Belanda.

Meski dalam hal ini kita tidak mengesampingkan peran tidak langsung dari ibu kandung Diponegoro sendiri, Raden Ayu Mangkarawati yang merupakan selir Hamengku Buwono III yang tak lain adalah anak perempuan dari Kyai Prampelan yang kesohor tersebut. Pun halnya, sang nenek sendiri Ratu Kedhaton yang merupakan wanita sholehah.

Maka tidak berlebihan jika kita beranggapan di balik nama besar Diponegoro ada wanita hebat dibelakangnya, yakni Ratu Ageng atau dalam nama gadisnya Niken Ayu Yuwati ini. Wanita sholehah yang masih terbilang trah Ampel yang sekaligus cucu Sultan Bima di Sumbawa. Meski dalam lembaran sejarah tidak banyak disebutkan seolah tenggelam oleh cucu uyut kesayangannya tersebut. Maka, satu kesimpulan yang bisa jadi sangat provokatif, Ratu Ageng : Wanita Tangguh yang Tercuri dari Sejarah yang ada. (RED | WWW.M ATAHATI01.WORDPRESS.COM | WWW.AKSARA.COM)

Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

Instal Metromini di Android Anda

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

item