Ganasnya Angin di Kota Bima, Dahan Tumbang, Satu Tewas. "Penerjun Marinir pun Nyasar"

Kondisi dahan pohon yang tumbang di Taman Ria, Gunung Dua, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, Senin (29/1/2018). METROMINI/Dok
KOTA BIMA - Kepala Bidang Darurat BPBD Kota Bima, Masrin S.Pt melaporkan, sampai dengan pukul 18:00 WITA (Senin, 29 Januari 2018), keadaan angin kencang yang melanda Kota Bima sejak pagi tadi telah menyebabkan beberapa pohon tumbang.

Kata dia, pohon tumbang mulai terjadi di jam 09.41 WITA di Perumahan Tolotongga, Kelurahan Jatiwangi, Kota Bima. Sekitar siang tadi, atap rumah seorang warga di Kelurahan Ntobo pun rusak di sasar angin kencang. Ada juga pohon yang tumbang di samping kantor DPRD Kabupaten Bima dan juga pohon tumbang depan SMKPP di Kelurahan Jatiwangi. 

"Keadaan angin kencang menimbulkan beberapa pohon yang tumbang dan genteng rumah warga rusak. Sementara yang terupdati akibat cuaca ekstrem ini, pohon tumbang terjadi di dekat SMKPP dan Perumahan Tolotongga, Kelurahan Jatiwangi. Dan ada juga atap rumah warga di Kelurahan Ntobo yang rusak," papar dia dalam rilisnya, Senin, 29 Januari 2018.

Selain itu, dalam hal menangani kondisi ini. Pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas terkait. Ia pu menghimbau agar warga tetap tenang dan berhati-hati berada di lokasi yang rawan seperti pohon tumbang atau rumah yang roboh.

"Kondisi perahu dan kapal nelayan di Kelurahan Tanjung pun sudah diamankan oleh pemiliknya pada lokasi yang aman. Dan sementara aktivitas melaut saat ini tertunda hingga cuaca angin kembali stabil dan normal seperti hari sebelumnya," tandasnya.

Tumbangnya Dahan Pohon di Taman Ria, Seorang Siswi SMA Tewas

Kondisi korban akibat tragedi tumbangnya dahan pohon  di Taman Ria, Gunung Dua, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, Senin (29/1/2018). METROMINI/Dok
Masrin  menambahkan, ganasnya angin siang kemarin ternyata mengakibatkan seorang warga meninggal dunia. Pasalnya, akibat angin kencang yang mematahkan dahan pohon mangga di jalan Soekarno Hatta, tepatnya di Taman Ria, Gunung Dua (Dalam istilah Bima di kenal dengan nama Daelakosa), menimpa dua pengendara motor dengan 4 orang korbannya. 

Menyambung keterangan Masrin. Menurut Babinsa TNI asal Kelurahan Sadia, Serka Abubakar menyebutkan, dalam tragedi taman ria tersebut, korban yang tertimpa reruntuhan pohon mangga saat mengendarai motornya adalah seorang guru berstatus PNS di SMKN 3 Kota Bima atas nama Mulyadin (36) yang membonceng anak gadisnya yang masih berusia 4 tahun.

"Korban yang tertimpa reruntuhan di Daelakosa adalah seorang guru di SMIK (SMKN 3 Kota Bima) dan anaknya yang bernama Hujaifa (4). Mereka adalah warga yang tinggal di Kelurahan Mande tepatnya di Lingkungan Mande II, RT. 05/02," jelas Babinsa.

"Mulyadin mengalami luka pada kaki bagian kanan dan kakinya tak bisa digerakkan. Sementara anaknya saat ini pun masih dirawat dan keadaannya cukup memprihatinkan di RSUD Bima," tambah Abubkar.

Ia melanjutkan, selain kedua orang korban yaitu ayah dan anak tersebut. Ada juga dua orang siswi yang pulang dari SMAN 1 Kota  Bima dan hendak kembali ke rumahnya. Kedua siswi ini mengendarai motor matic dan juga menjadi korban tertimpa reruntuhan dahan yang diduga sudah kropos dan jatuh diterpa angin kencang. 

Dia menyebutkan, kedianya bernama Atika (15), pelajar asal RT 13/04, Kelurahan Paruga yang dari tragedi itu mengakibatkan tangan kanan dan kaki kanannya kasaleo. Sementara, seorang siswi atas nama Anis Istikomah (17) mengalami luka yang sangat serius. Keempatnya oleh warga langsung di bawa ke UGD RSUD Bima, kemarin siang.

"Dan menjelang sore. Seorang dari para korban tragedi taman ria atas nama Anis Istikomah meninggal dunia. Kaki Anis baik yang kiri dan yang kanan sama-sama patah. Dan ia merupakan siswi asal Kelurahan Melayu, Kecamata Asakota, Kota Bima," jelasnya.

Dalam tragedi tersebut. Abubakar menambahkan, selain korban luka-luka dan yang meninggal dunia. Jatuhnya reruntuha dahan dari pohon yang cukup rindang dan tua itu pun merusak tiang listrik milik PLN. Dan pasca musibah terjadi, pihak pemerintah yaitu Dinas PUPR langsung membersihkan dan memotong sisa reruntuhan yang tepat menutup akses jalan nasional itu.

"Demikian pula dengan tiang listrik yang tusak itu pun segera diperbaiki oleh pihak PLN," tandasnya.

Seorang warga asal Kelurahan Melayu, Ayis menyebutkan, kabarnya korban adalah anak seorang guru olahraga yang mengabdi di salah satu Mandrasah Aliyah di Kota Bima, Rencananya, siswi yang diketahui baik sifat dan budinya itu akan dikebumikan, Selasa, 30 Januari 2018 (hari ini-red) di perkuburan Kelurahan Melayu. 

"Korban ini anak seorang guru di MAN 2 Kota Bima. Kabarnya kedua orang tua korban merupakan warga asli asal Kecamatan Monta, Kabupaten Bima," sebut Ayis kepada media ini, Senin kemarin.

Para Penerjun Marinir 'Nyasar'

Setelah 'kesasar' mendarat di samping sekolah yang ada di Kelurahan Lewirato, Kecamatan Mpinda, Kota Bima. Anggota marinir ini (Imam) selvy atau foto bareng dengan guru-guru di SMPN 1 Kota Bima. FACEBOOK/Jumadil Akbar
Senin, 29 Januari 2018 tentu menjadi momentum bersejarah bagi korps TNI Angkatan Laut atau yang biasa dikenal dengan Pasukan Marinir. Pasalnya, dalam agenda latihan perangnnya di Kota Bima, dalam agenda di hari terakhir, Senin kemarin. Demonstrasi kebolehan dan kemampuan terjun payung pasukan berbaret ungu itu akan ditampilkan sebagai hiburan bagi masyarakat Kota Bima.

Pantauan media ini, setelah di pagi harinya menggelar parade alat utama sistem pertahanan (Alutista) milik marinir yang menghebohkan suasana di Kota Bima. Dilanjutkan pula pada demonstrasi penembakan marian dan aksi terjun payung yang landasan pendaratannya ditentukan di Lapangan Manggemaci, Kelurahan Monggonao, Kecamatan Mpunda, Kota Bima.

Seorang penerjun payung asal Marinir di atas langit Kelurahan Lewirato, Kecamatan Mpinda, Kota Bima. FACEBOOK/Jumadil Akbar
Menurut seorang sumber di Pemerintah Kota Bima. Dalam aksi terjun payung anggota Marinir ini, rencananya aka n diterbangkan sebanyak 16 orang prajurit. Dan pada saat star dan berenang di atas langit Kota Bima. Kata dia, dari dua regu yang rencananya akan melakukan, hanya satu regu yang terdiri dari 8 orang saja yang berhasil terjun dari pesawat. 

"Karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk dilakukan aksi terjun payung dari dua regu hanya 8 orang penerjun dari regu yang pertama yang melakukan aksi ini. Sisanya, satu regu atau 8 penerjun lainnya tak jadi melakukan aksi yang ditunggu-tunggu warga Kota Bima di Lapangan Manggemaci itu," paparnya.

"Pembatalan satu regu karena memang kondisi angin sangat tidak mendukung untuk melakukan aksi ini. Ganasnya angin, menjadi sebab tidak jadi terjunnya 16 orang tapi hanya 8 orang penerjun saja," ucap seorang staf di Bagian Humas dan Protokoler setda Kota Bma itui menambahkan, semalam.


Kata dia, kekuatiran regu lain tidak jadi melakukan aksinya itu pun terbukti. Pasalnya, tidak ada satupun dari 8 penerjun yang berhasil mendarat sempurna di Lapangan Manggemaci. Dari 8 penerjun yang seketika melompat dari pesawat dan langsung dihantang angin kencang ke arah timur Kota Bima, bisa dipastikan para anggota marinir itu 'kesasar' pendaratannya.

"Dari kedelapan orang itu. Ada yang mendarat di atas atap rumah warga di Kelurahan Penaraga, ada yang di atas gunung di Kelurahan Rabadompu Timur, ada di persawahan Kelurahan Penaraga dan di Kelurahan Rabangodu. Bahkan ada yang mendarat di Kelurahan Lewirato, samping SMPN 1 Kota Bima yang sekaligus diabadikan dalam selvy (foto bareng) bersama guru dan murid di sana," tandas dan jelas ASN itu.

Kondisi atap rumah warga yang menjadi lokasi pendaratan salah satu aksi penerjun asal Marinir di Kelutahan Penaraga, Kecamtan Raba, Kota Bima, Senin (29/1/2018). METROMINI/Dok
Sementara itu, seorang penerjun, Imam yang mendarat di Keluraha Lewirato mengaku, dalam aksi terjun payung yang dilakukannya selama ini. Kata dia, baru kali ini mengalami kegagalan secara kolektif. Diakuinya, sebenarnya aksi terjun payung dan kondisi angin kencang tidak memungkinkan untuk aksi ini akan berhasil 

"Yah karena demi memberikan hiburan kepada masyarakat Kota Bima, kami pun akhirnya melompat dan tidak tepat di titik pendaratan sebelumnya karena kondisi angin yang ekstream," ucap Imam, dilansir dari salah satu media online di Kota Bima, kemarin.

Dan dari info yang terhimpun, dari para penerjun yang 'kesasar' tersebut, semuanya dalam keadaan selamat . Senin, sore hari kemarin, ribuan anggota Marinir sudah balik ke markasnya dengan kapal perang dan membawa sederet cerita unik saat latihan perangnya di Kota Bima--yang tentunya takkan mudah dilupakan Angkatan Laut negeri ini.

Sementara itu, keterangan resmi dari pihak Marinir atas kondisi pendaratan yang 'kesasar' akibat angin kencang masih dikonfirmasi ke pihak TNI AL.  (RED)

Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

Instal Metromini di Android Anda

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

item