Kritikan Warga di Sosmed Soal Proyek Jembatan Cenggu Bernada "Sadis"

"Warganet: Kalau Bisa Pemborong dan Oknum Pejabat Dicor Campur dengan Bangunan"

Kondisi proyek jembatan yang disorot netizen di Desa Cenggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima. METROMINI/Dok
KABUPATEN BIMA - Sorotan proyek pembangunan di jembatan yang ada di Desa Cenggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima yang menelan anggaran miliaran rupiah tersebut disorot warga. Pemuda asal Desa Cenggu, yang juha akrab dikenal sebagai aktivis di Bima, Delian LuBis menerangkan, pengerjaan jembatan di Cenggu tidak sesuai standar kualitas yang diharapkan.

"Pekerjaan di Jembatan Cenggu, bangunan yang ada kurang semennya pada proses pengecoran. Pihak pemborong diduga memplester ulang dengan semen agar kelihatan banyak semennya padahal itu polesan untuk menutupi bangunan cor yang mudah dikupas dengan tangan itu," tulis Delian dalam linimasa akun Facebook-nya, Senin kemarin.

Ia pun menyinggung, seorang staf di kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bima yang diduga sebagai pengawas proyek tersebut (Ito Mimi).

"Sebagai pengawas (Ito-red), saya tidak ngomong yang bukan fakta. Jembatan habis uang miliaran kok kualitas cor gampang dikelupas dengan tangan. Bangunan tidak banyak semennya bahkan bisa dibilang tidak ada," tutur dia.

Dijelaskannya, pada pelaksanaan proyek tersebut, bukti sampel beton/bangunan dan foto sudah dikantonginya. Kata dia, pihaknya akan melakukan uji kelayakan ke laboraterium. Setelah itu ada hasil dari laboratorium baru pasca pemeliharaan proyek ini, akan dilaporkan secara resmi kepada pihak yang berwajib.

Lanjut Lubis, sebenarnya, item anggaran proyek jembatan adalah anggaran di tahun 2017 lalu. Entah mengapa dikerjakan pada tahun 2018 yang kabarnya pula diduga dilakukan dalam bentuk multi years (proyek berjalan dalam beberapa tahu secara berkesinambungan-red).

Sementara itu, pemuda lainnya, Wahidin mengaku, terkait lambatnya proyek jembatan itu pernah digelar aksi unjuk rasa. Kata dia, pihak DPU PR (Kabid Bina Marga, Sutami-red) berlasan terken dalanya memperbaiki jembatan tersebut karena alasan hujan. Sehingga, pelaksanaannya berlanjut hingga tahun 2018 ini padahal anggaran proyek tersebut berjalan di tahun 2017 yang nilai proyek pun tak disosialisasi secara terbuka oleh pemerintah.

"Dan aksi tersebut, kami dipukul mundur oleh aparat Kepolisian dengan alasan aksi kami memblokir jalan. Kami pun diangkut paksa dan dibawa ke Kapolres Bima Kota saat demo di kantor DPU PR Kabupaten Bima. Alasan mereka pun saat itu, pekerjaan ini terkendala karena alasan hujan. Sungguh alasan yang mengecewakan dan tampak mereka tidak cerdas dalam membangun infrastruktur yang baik di wilayah Kabupaten Bima," ucap pemilik akun Facebook SuperWhadin Ciwintara dalam

Sementara itu, pegiat LSM lainnya,  Dae Sari Tente menjelaskan, bangunan di Jembatan Cenggu diduga bermasalah. dan tidak sesuai dengan gambar serta kondisi areal jalan (aspal). Kata dia, pembangunan jembatan itu, setelah dilihat secara teliti ternyata miring ke timur.

"Tadi pagi saya selaku Biro Hukum KPSPI Kabupaten/kota Bima dan Pak Sekda menyaksikan Pak Kades Cenggu dan pihak Kontraktor ribut karena saat diminta gambar jembatan pihak pemborong tak mau memberikannya. Padahal RAB, Gambar bahkan Plank yang menerangkan nama pelaksana dan nama kegiatan maupun nilai anggarannya adalah sesuatu yang memang wajib dipublikasikan atau dipasang," tutur dia.

Kata Dae Sari Tente, kuat dugaan tiang jembatan yang dipasang nanti akan keliatan di tengah aspal. Dan sebenarnya, Pak Kades sudah meminta digeser dan diluruskan, namun berakhir cekcok dengan pemborong.

Sementara itu, warga lain pemikin akun Facebook, Ince Alan, meminta warga sedikit tenang dalam mengkritisi pembangunan di Kabupaten Bima. Menurut Ince, semestinya tidak dikedepankan tidakan pengrusakan atau anarkis dulu, sebelum melakukan pembicaraan audensi dan meminta gambar maupun RAB proyek tersebut, baik di Pemborong atai di DPU PR Kabupaten Bima.

"Jangan dulu melakukan tindakan yang merusak. Minta dulu gambar dan jika memang dalam perhitungan masyarakat bermasalah yang silahkan ditindaklanjuti. Masyarakat sangat berhal menjadi pengawas atau mengawasi setiap pembangunan yang dilakukan pemerintah di desanya," papar Ince.

Selain itu, keterangan warganet bernama Theta Putra, mengabarkan bahwa nilai pekerjaan proyek tersebut sebesar Rp3,4 miliar. Theta harap memang masyarakat bertindak dan segera menghentikan pekerjaan itu.

"Jangan sampai anggaran yang dikucurkan oleh daerah untuk kepentingan akses transportasi berdasarkan tingkat kebutuhan masyarakat. Menjadi sia-sia oleh karena perusahaan pelaksana jembatan tidak mengerjakan proyek dengan kualitas bangunan yang baik. Kalau nanti memang ada temuan, laporkan saja adinda Delian LuBis," tandas Theta dikomentas status milik Delian itu.

Tanggapan "sadis" pun datang dari akun Facebook Anugerah Cinta. Kata Anugerah, proyek jembatan itu, agar kualitasnya bagus dan pondasinya kuat. Saat proses cor tiang atau bangunan, dicampur juga dengan badan pemborong dan oknum pejabat yang terkait proyek tersebut.

"Kalau bangunan setelah dicor campur dengan dengan kepala pemborong dan oknum pejabat. Walau semennya sedikit, kualitas bangunan akan tetap kokoh," celoteh Anugerah dengan kelakar yang bernada "sadis" itu.

Lubis pun menananggapi komentar Anugerah dengan balasan menuliskan, itu ide yang cemerkabg,

"Mantab ide itu, Anugerah. Kalau memang semen sedikit dan dicambur dengan kepala pemborong untuk kualitas bangunan proyek yang baik. Ide bagus itu, kalau bisa dicoba," balas Lubis membalas komentar bernada kelakar sinis itu.

"Dicor tindih langsung dengan si pemborong memang biar kuat. Cari makan proyek, malingnya keterlaluan itu. Proyek membawa mala petaka itu," tambah akun Mbu C'kring dalam komentar selanjutnya.

Sementara itu, terkait sorotan proyek ini, pihak pemborong dan DPU PR Kabupaten  Bima masih dikonfirmasi lanjut terkait pemberitaan ini. (RED)





Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item