Miskomunikasi Dibalik Pengrusakan, Ternyata Gedung Paranaka-Tente Ingin Direnovasi

Gedung Paranaka di Desa Tente, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, kondisi gentengnya dirusak semua. METROMINI/Dok
KABUPATEN BIMA - Babinda Desa Tente, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Sertu Faris mengungkapkan, Selasa 23 Januari 2018 sekitar pukul 19:00 WITA, terjadi pengrusakan atap gedung Paranaka (Amba Mpasa/Pasar Lama). Gedung Pranaka ini terletak di Desa Tente, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima.

Faris menceritakan, dirinya melihat adanya runtuhan genteng atap Gedung Paranaka setelah mendapat laporan dari warga. Kata dia, genteng dari bangunan bersejarah yang biasa disebut Paruga Paranaka atau biasa dikenal dengan Amba Mpasa (pasar lama) gentengnya diturunkan dan hampir seluruhnya pecah.

"Sesuai laporan yang kami terima, pelaku yang menurunkan genteng tersebut adalah  Kepala Dusun (Kadus)Sukamaju, Desa Tente bernama Sukardin alias Sale H. Dali. Kadus mengaku penurunan genteng atas perintah Kepala Desa Tente," jelas Faris, Selasa (23/1/2018) malam.

Faris melanjutkan, setelah dia melakukan koordinasi untuk mendapatkan informasi dari Ketua BPD Dusun Sukamaju yang berada di lokasi saat pembongkaran, Kata Faris, Ketua BPD menyampaikan bahwa gedung tersebut akan ditingkatkan kualitasnya dan segera dilakukan renovasi, 

"Yang melakukan renovasi nanti sesuai keteretangan Ketua BPD adalah pihak ke Tiga, Sementara untuk mekanisme pengelolaan dan rancang bangun akan disampaikan setelah selesai renovasi,"ujarnya.

Kondisi genteng yang rusak di Gedung Paranaka di Desa Tente, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. METROMINI/Dok
Dia mengatakan, dalam hal ini, komponen yang ada di Desa Tente, baik Kadus, Ketua BPD dan Kades, besok (Rabu, 24 Januari 2018) secara bersama-sama akan melakukan pertemuan guna melakukan klarifikasi.

"Proses klarifikasi dilakukan agar warga tidak salah duga terkait adanya runtuhan genteng yang hampir semuanya hancur karena kondisi genteng sudah tidak layak digunakan kembali," terangnya.

Dia berharap, jika memang ada kegiatan pembangunan untuk gedung ini, agar dilakukan secara terbuka dan setiap proses yang dilakukan diketahui oleh masyarakat. Untuk itu, lewat rapat besok diharapkan pihak desa dapat memperjelas bentuk kegiatan, nilai anggaran dan pelaku kegiatan agar tidak terjadi miskomunikasi seperti ini. 

"Minimal kalau proyek berjalan ada papan namanya dan penggunaan anggaran desa bisa dilakukan secara transparan dan terbuka menghindari miskomunikasi seperti kejadian pengrusakan genteng yang awalnya dikira dilakukan oleh orang tak dikenal," tutup Faris dalam keterangannya ke www.metromini.co.id. (RED)


Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

Instal Metromini di Android Anda

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

item