Proyek Jembatan Cenggu Rp3,45 M, Dikerjakan PT Asal NAD Dilaporkan ke Kejaksaan

Posko Menangkan Pancasila lewat kuasa hukumnya (Wahyudinsyah, S.H, M.H) menyerahkan laporan dugaan masalah pada pekerjaan pembangunan  Jembatan  Cenggu, Kabupaten  Bima, Kamis (18/1/2018). METROMINI/Dok
KABUPATEN BIMA - Dedengkot Posko Menangkan Pancasila di bawah komando Arif Kurniawan, S.Sos dan Delian Lubis, S.Sos terkait kegiatan advokasi mereka pada pekerjaan Jembatan Cenggu, Kabupaten Bima setelah menunjuk Penasehat Hukumm Wahyudinsyah, S.H, M.H.

Kamis, 18 Januari 2018 pagi kemarin, Wahyudinsyah bersama kliennya melaporkan secara resmi dugaan pelanggaran yang terjadi pada pelaksanaan pembangunan Jembatan yang ada di Desa Cenggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima yang menelan anggatan sekitar Rp3,4 miliar dalam pekerjaan dua tahun anggaran tersebut.

"Kami sudah melaporkan secara resmi ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Raba-Bima sesuai dengan Nomor surat: 16/Lap/Ed.Adv/I/2018 perihal tentang Laporan Dugaan Pidana Korupsi Terhadap Pekerjaan Jembatan Cenggu," ucap Lawyer muda itu dalam rilis persnya usai menyampaikan laporan tersebut, kemarin.

Baca: Kritikan Warga di Sosmed Soal Proyek Jembatan Cenggu Bernada "Sadis"



Kondisi proyek jembatan yang disorot netizen di Desa Cenggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima. METROMINI/Dok

Wahyudinsyah menjelaskan, dalam kasus ini, dirinya bertindak sebagai kuasa hukum dari Delian Lubis. S.Sosa dan Arif Kurniawan. S.Sos alias Bonar.

Kata dia, proyek dengan Nomor Kontrak: 602.1/401/K/06.9/2017 senilai kontrak Rp3.454.500.000, bersumber dari DAU APBD Kabupaten Bima Tahun Anggaran 2017 DAN 2018. Pemenang tender atau pihak pelaksana pembangunan adalah PT. Putra Nangoroe Aceh yang berdomisili asal Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) di Pulau Sumatera. Dan dalam papan informasi yang dibuat pihak kontraktor, tidak dijelaskan waktu pengerjaan dari proyek ini.

Kata dia, pengerjaan proyek jembatan tersebut, sebelumnya, oleh kliennya tetap diperhatikan dan dipantau langsung secara berkala karena kebetulan lokasi proyek dengan tempat tinggal kliennya dalam desa yang sama.


Menurutnya, setelah dia bersama kliennya melakukan investigasi khusus pada obyek proyek tersebut. Terutama pada pekerjaan beton ditemukan fakta-fakta bahwa campuran materil tidak sesuai standar. Diakuinya pula, sebagai alat pengaduk semen digunakan alat berat jenis eksakvator bukan menggunakan mobil molen atau mobil penyampur semon dalam memproduksi beton sebagaimana standarisasi pekerjaan sebuah perusahaan konstruksi yang ada.

"Namanya pekerjaan beton, untuk mengaduk materialnya harusnya menggunakan mobil molen. Oleh kontraktor digunakan eksavator untuk mencampur semen, pasir dan kerikil dalam membuat beton di proyek jembatan cenggu," ucap pengacara yang juga akrab disapa Edo itu.

Infoemasi lelang proyek Jembatan Desa Cenggu, Kabupaten Bima TA 2017. METROMINI/Dok
Ditegaskannya, setelah diteliti pada fisik proyek, diduga campuran material pada pembangunan proyek tersebut tidak layak. Selain itu, pada jenis material pasir, digunkan pasir kali biasa bukan pasir besi, 

"Item yang diduga bermasalah lainnya yaitu air campuran dalam mengaduk semen dan material lainnya diambil dari air sisa banjir yang ada di kali. Kondisi air tersebut masih dalam keadaan bercampur dengan lumpur dan tentunya mempengaruhi kualitas beton yang digunakan dalam pembangunan jembatan itu," jelas Dosen di STIH Muhammadiyah Bima itu.

Informasi pemenang tender proyek Jembatan Desa Cenggu, Kabupaten Bima TA 2017. METROMINI/Dok
Ia menambahkan, temuan lainnya yaitu semen yang dipakai untuk pembuatan beton yang disimpan di tempat penyimpanan pihak pemborong, diduga dijual oleh pekerja kurang lebih 50 Sak. Semen yang dijual kepada warga yang ada di Desa Cenggu. 

"Kondisi ini, diindikasikan dalam campuran material tidak sesuai dengan standar karena faktor pengurangan oleh oknum pekerja, di mana semen bukan dituangkan untuk kebutuhan pembangunan jembatan, tapi diduga diuangkan kepada masyarakat sekitar dengan harga yang lebih murah dengan harga di toko," tukas dia. 

Lokasi proyek pekerjaan pembangunan Jembatan Desa Cenggu, Kabupaten Bima TA 2017. METROMINI/Dok
Ia menjelaskan pula, setelah dibuka pengecoran beton jembatan tersebut. Untuk menutupi kualitas beton yang tak sesuai standar tersebut, bagian luar beton diplaster dengan semen murni untuk menutupi kekurangan kualitas pengecoran. Jika dicek di dalam bagian beton, kata Edo, ditemukan rongga atau kondisi beton yang bolong dalam jumlah yang banyak. 

"Dan postur beton pun tidak merata. Secara kasat mata saja terlihat tidak berkualitas pembangunan proyek yang tengah dikerjakan kontraktor sekarang itu," ungkap dia.

Selain itu. atas kejadian dan temuan adanya dugaan penyimpangan atau fisik proyek berkualitas rendah tersebut. Hal ini diakibatkan dari tidak seriusnya pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah. Sehingga, kata dia, proyek tersebut bisa dikatakan sangat buruk pengerjaannya.

"Untuk itu, pengawas proyek semestinya setiap waktu tetap mengawasi pekerjaan tersebut. Dan harapannya, ke depan tidak ada lagi keadaan yang merugikan keuangan pemerintah akibat dari pola pengawasan yang kurang," tandas dia.

Ia mengungkapkan, atas beberapa kondisi fisik proyek yang ada saat ini. Pihaknya secara resmi mengadukan temuan ini ke Kejaksaan Negeri Raba Bima agar segera melakukan langkah-langkah penyelidikan hukum guna menyelidiki adanya dugaan kecurangan dalam pengerjaan proyek negara tersebut. 

"Jika terindikasi merugikan keuangan negara, sebagaimana dugan awal yang kami sampaikan di atas. Sesuai ketentuan dalam pasal 2 dan pasal 3 UU No 31 tahun 1999 Jo UU No 20 tahun 2001, pihak-pihak yang diduga terlibat harus diperiksa dan kasus ini pun harus memiliki kepastian hukum yang secepatnya," papar dia. 

Eksavator yang digunakan untuk mengaduk material proyek pada pekerjaan pembangunan Jembatan Desa Cenggu, Kabupaten Bima TA 2017. METROMINI/Dok
Kata Edo, pihak pemerintah bersama instansi terkait, bisa membentuk Tim Pencari Fakta untuk melakukan penyelidikan yang melibatkan stakeholder yang berkompeten, seperti melibatkan konsultan independen sebagai pembanding dan atau akademisi sesuai dengan kompetensi bidang konstruksi jembatan.

"Kami pun berharap dalam waktu dekat ini, pihak Kejari sudah memanggil pihak-pihak terkait yaitu Pelaksana Proyek pemerintah/Kontraktor pada pekerjaan Jembatan Cenggu (PT. Putra Nangroe Aceh). Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPD) Kabupten Bima, Pejabat Pembuat Komitmen, Pengawas termasuk konsultan perencana dan pengawas proyek tersebut," terang dia. 

"Dan dalam laporan yang disampaikan ke Kejari Raba Bima itupun sudah dilayangkan surat tembusannya ke Kejati NTB dan Kejaksaan RI," tambah Edo.

Sementara itu, pihak-pihak terkait dalam pemberitaan ini yaitu Pihak Kontraktor, Pengawas, Dinas PUPR Kabupaten Bima dan juga Kejari Raba-Bima masih dikonfirmasi lebih lanjut. (RED)

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item