Dewan Syuro JAS: Polemik Sepatu Bupati di Masjid Desa Sangiang, Paling Tinggi Beliau Khilaf


Bupati Bima menggunakan sepatu di atas keset yang berasal dari sisa sajadah di emperan Masjid Al Hidayah, Desa Sangiang. Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Jum'at, 9 Februari 2018 lalu. METROMINI/Gejod.
KABUPATEN BIMA - Sejak Jum'at (9/2/2018) malam kemarin, beredar foto Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri yang menggunakan sepatu dan naik ke atas Masjid Al Hidayah di Desa Sangiang, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Dalam foto tersebut, terlihat keadaan masjid yang sedang direnovasi. 

Foto itu pun menjadi viral dan ramai dibicarakan warganet hingga saat ini. Beragam pro dan kontra netizen dalam polemik foto yang diunggah melalui status media berjenis facebook tersebut.

Menanggapi hal tersebut. Kasubag Informasi dan Pemberitaan, Bagian Humas dan Protokoler seta Kabupaten Bima,  Ruslan.S.Sos mengungkapkan, maraknya foto Bupati Bima Hj.Indah Dhamayanti Putri di Facebook pada saat memberikan bantuan pembangunan masjid Al Hidayah Desa Sangiang. Kecamatan Sape, Jum'at, 9 Februari 2018.

Ruslan menegaskan, sesuai pernyataan dari Ketua Panitia Pembangunan Masjid setempat (Bapak Imran H. M. Said-red) bahwa karpet yang diletakan di emperen masjid itu sudah digunakan sebagai alas kaki atau keset. Karpet itu tidak lagi digunakan sebagai sajadah untuk shalat. Dan tempat Bupati serta beberapa pengurus masjid itu berdiri adalah di emperan masjid.

"Demikian klarifikasi kami dan mari kita mendukung program Pemerintah Kabupatrn Bima dalam rangka penyelesaian proses pembangunan masjid dan mushalla di seluruh wilayah kabupaten Bima," ujar dia dalam siaran persnya, Sabtu (10/2/2007).

Ia pun mengajak masyarakat untuk dapat mengisi shaf-shaf masjid dan mushalla dalam upaya memakmurkan masjid. "Mari kita sukseskan program Gerakan Pesantren Sehari dalam rangka pendidikan karakter dan penanaman nilai-nilai agama di tengah masyarakat menuju Bima RAMAH," pungkasnya.

Pandangan Jamaah Ansharusy Syariah (JAS)

Bupati Bima dan panitia pembangunan Masjid Al Hidayah, Desa Sangiang. Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Jum'at, 9 Februari 2018 lalu. METROMINI/Gejod.
Dewan Syuro Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), Ustadz Abdul Hakim Bin Sef mengatakan, dalam pandangan syariah, tempat yang dilarang diinjak menggunakan sandal atau sepatu adalah di tempat sujud. Bukan di tangga masjid atau di teras. 

"Kalau saya melihat kondisi Bupati dalam foto tersebut bukan sebagai satu unsur kesengajaan. Sebab, bagi seorang muslim atau muslimah apalagi orang bima asli. Tidak akan mungkin tega masuk ke Masjid dengan sepatu. Dalam syariah, tempat yang dilarang diinjak menggunakan sepatu adalah tempat sujud," ujar Ustadz Abdul Hakim, di kediamannya, di Kelurahan Melayu, Kecamatan Asakota, Kota Bima, Sabtu (10/2/2018) malam.

Tapi, dia menegaskan, kondisi ini sangat tergantung pada keadaan lokasi kejadiannya. Sebab, kalau di Masjid Nabawi pada lingkaran tempat untuk sholat, banyak orang sholat sepatunya dilepas di sampingnya. 

"Saya melihat sendiri kesucian yang dilakukan di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram. Tiap deker saja disiram dengan menggunakan sabun seperti pencucian mobil yang ada sekarang. Di sana tidak ada cerita nazis itu ada. Makanya, di Madinah atau di Makkah, banyak orang yang sholat di emperan masjid dengan memakai sepatu atau alas kaki," jelas mantan Amir JAS Nusa Tenggara itu.

Dia menjelaskan, keadaan di Makkah dan Madinah tentu berbeda dengan di Bima. Di Makkah atau di Madinah tidak ada orang yang meludah dilantai, apalagi kencing. 

"Kalau di Bima kan orang kencing di jalan banyak. Ada kotoran binatang dan gampang ditemukan adanya nazis. Kalau di Makkah dan Madinah, demi Allah, setiap menjelang waktu-waktu masuk untuk sholat, mobil-mobil pembersih itu yang banyak jumlahnya membersihkan dengan sabun dan kemudian dikeringkan saat itu juga. Dijamin tidak ada nazis di sana," paparnya.

"Dan kita bisa melihat sepatu bagi yang sholat di simpan di sampingnya. Dan tempat yang diinjak dengan sepatu tersebut, dipakai juga untuk tempat sujud," tambahnya.

Dalam konteks masuk dengan sepatu di  tempat lain yang sudah pasti banyak kotorannya. Maka tidak layak seorang muslim menginjakkan sepatu untuk masuk ke dalam tempat sujud yang ada di masjid. 

"Kalau sepatu diinjak sampai di tangga ngak apa-apa, karena bukan tempat sujud. Tapi kalau di emperan tempat di pakai sholat ya ngak boleh.  Saya berbicara dari sisi syariatnya. Yang dilarang itu menggunakan sepatu di tempat kita sholat. Dan kalau itu terjadi jelas salah dia. Dan tak memandang siapapun orangnya," pungkasnya.

Lokasi ditandai kuning adalah tempat berdirinya Bupati Bima dengan sepatu di atas keset yang berasal dari sisa sajadah di Masjid Al Hidayah, Desa Sangiang. Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Jum'at, 9 Februari 2018 lalu. METROMINI/Gejod.
Dia menegaskan kembali, jika Bupati merasa masuk di emperan masjid dengan sandal atau sepatu dan beliau merasa yang diinjak bagian dari pada sejadah yang sudah jadi keset. Kondisi ini bukan menjadi persoalan. Seumpama di dalam masjid, dan sudah nyata-nyata untuk tempat sholat lalu diinjak dengan posisi memakai sepatu jelas ini kekeliruan

"Dan kondisi itu pun mungkin beliau lupa. Saya tidak yakin ada seorang muslim yang berani masuk dengan sepatu ke tempat sujud. Saya tidak yakin itu. Kalaupun benar paling tinggi dia lupa. Tapi itu salah. Dan orang lupa ya harus ditegur. Orang lupa harus diingatkan. Sama dengan Imam sholat yang lupa bukan ditarik mundur tapi diingatkan," tegas Ustadz berpostur tinggi besar itu seraya menolak dirinya yang ingin difoto oleh Reporter Metromini itu. 

Kata dia, dirinya berbaik sangka dalam kejadian ini, Bupati seorang muslimah. Dan terkait dengan adanya teguran dari warga tentang adab masuk ke dalam kuburan dengan sepatu. Mungkin dia (Bupati-red) dalam posisi yang awam. Tidak paham Islam. Dan mungkin orang yang menilai dia, lebih paham dari dia. 

"Untuk orang bodoh yang sudah diberitahu. Orang bodoh dimaafkan oleh Allah. Dia jahil. Salahpun orang itu kita tegur. Seperti Imam sholat diangkat untuk memimpin sholat karena dia paham ayat. Ketika salah, bukan kita tarik, Tapi kita betulkan. Diislah istilahnya," ungkapnya.

Dan ketika Imam tidak ingin mendengarkan, sambung dia, itu dosa Imam. Saat Imam memegang teguh kesalahannya, tentu makmum tidak berdosa. Dan itulah beratnya menjadi Imam. 

"Kalau dia (imam atau pemimpin-red) benar, dia dapat pahala dari seluruh makmumnya. Tapi kalau dia salah, dia menanggung semua yang menjadi makmum dan gerbongnya. Orang salah harus diingatkan," ucap dan tutup Dewan Syuro JAS itu. (RED)


Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item