Minta Perbaiki Jalan, Warga Blokir Jalan di Belo dan Wera


Kondisi pemblokiran jalan oleh warga di Desa Lido, Belo, Kabupaten Bima, Sabtu, 3 Februari 2018. METROMINI/Dok
KABUPATEN BIMA - Tak ada hentinya gejolak yang terjadi di Kabupaten Bima, Bagai daerah tak terurus saja. Setiap hari selalu ada fenomena yang resistenci bernafas polemik. Demokrasi tak lagi menjadi jawaban yang mampu menciptakan kondisi yang RAMAH sebagaimana jargon dari Bupati dan Wakil Bupati terpilih di Pilkada 2015 yang lalau.

Kendati di bawah kepemimpinan istri dari mendiang Sultan Bima, Almarhum H. Feri Zulkarnain, ST yang dibantu oleh Wakilnya H. Dahlan, Bupati Bima serasa banyak berbuat hingga hujan protes, konflik horisontal maupun aksi-aksi lain yang memicu kekerasan kerap mewarnai pertumbuhan pembangunan di Kabupaten Bima saat ini.

Baca: TNI Pulang Patroli di Minte (Dadibou)-Risa, Konflik Godo (Dadibou) VS Penapali Terjadi

Setelah sehari sebelumnya terjadi konflik antar kampung di Kecamatan Woha. Sabtu, 03 Februari 2018 pagi aksi yang sama dalam bentuk memblokir jalan dan tuntutan isu yang sama pun terjadi di Kecamatan Belo dan Kecamatan Wera. 

Pasalnya, menurut seorang warga asal Kecamatan Belo, Muhammad Tohar mengaku, bertempat di RT. 03/01, Dusun Tonggo Ndoa, Desa Lido, Kecamatan Belo .berlangsung pemblokiran jalan yang dilakukan oleh masyarakat. Kata Mantan Ketua BEM STIHM Bima itu, warga menuntut perbaikan jalan raya Lintas Tente-Karumbu untuk segera diperbaiki pemerintah.

Ia menceritakan, pukul 10.00 WITA, Sabtu kemarin, gabungan masyarakat Desa Lido mulai berkumpul dan melakukan pemblokiran jalan. Mereka menggunakan serambi (bale-bale), batu dan kayu untuk memblokir jalan kewenangan Pemerintah Provinsi NTB itu.

Kata dia, masyarakat Desa Lido melakukan menuntut Pemerintah Kabupaten Bima bisa memfasilitasi atau melakukan pengaspalan jalan yang ada di desa mereka. Memang, sahut Tohar, kondisi jalan di Desa Lido tersebut, sudah sangat parah. Kondisinya pun mengancam masyarakat pengguna jalan dan sering terjadinya kecelakaan lalu lintas.

"Kami melakukan aksi pemblokiran jalan ini, berharap agar pemeritah segera memperbaiki kondisi jalan ini," terang Tohar yang juga Kordinator Lapangan aksi pemblokiran jalan itu.

Kondisi perbaikan jalan yang terjadi di Desa Lido, Belo, Kabupaten Bima setlah dilakukan aksi pemblokiran jalan oleh warga, Sabtu, 3 Februari 2018. METROMINI/Dok
Sementara itu, menurut keterangan warga lainnya, Rigen mengaku, aksi warga itu pun direspon oleh Kepala Pemerintah Kecamatan Belo, Bambang, SE. Hadir pula Kades Lido (Junaidin) dan Kapolsek Belo (IPTU Hanafi) maupun dari Binmas Polres Bima. Saat itu, kata Rigen, Camat Belo (Bambang) mencoba memediasi masalah dan tuntutan warga ini dengan pihak dinas terkait. 

"Pak Bambang langsung menghubungi pihak Dinas PUPR Kabupaten Bima via ponselnya guna mendapatkan jawaban. Alhasil pihak DPUPR akan langsung merespon dengan mengerjakan dengan penambalan sertu (pasir dan batu) pada kondisi jalan yang rusak dan pengakuan itu sebagai pertanda akan di laksanakan perbaikan jalan ini," ungkapnya, kemarin.

Ia menambahkan, setelah mendapat respon dari pemerintah, antrian panjang yang terjadi berakhir setelah warga membuka pemblokiran jalan. Sempat pula pada badan jalan, ditanam oleh warga dengan pohon pisang.

"Dan sekitar pukul 12:00 WITA, kondisi jalan sudah bisa dilalui kendaraan dan situasi terpantau aman terkendali," tandasnya.

Blokir Jalan di Wera

Kondisi pemblokiran jalan oleh warga di Desa Rangga Solo, Wera, Kabupaten Bima, Sabtu, 3 Februari 2018. METROMINI/Dok
Kejadian yang sama pun terjadi di Kecamatan Wera, tepatnya di Desa Rangga Solo. Warga di sana pun melakukan aksi pemblokiran jalan dan berharap pemerintah bisa segera memperbaiki jalan yang tusak di desanya. 

Kata seorang warga, One mengaku, kondisi jalan yang berbatasan dengan Desa Sangia, Kecamatan Wera kondisinya sangat parah. Apalagi, di tengah musim penghujan seperti ini, kondisi jalan yang tak hanya berlubang dan juga licin. 

"Jalan di desa kami ini sudah lama tidak diperbaiki. Dan para pengguna jalan di sini, merasa sudah tidak nyaman dan bisa menyebabkan kecelakaan saat berkendara," ujar dia, Sabtu kemarin.

Menurutnya, pembangunan di Kecamatan Wera, ibarat bagai anak tiri saja. Semestinya, sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun Kabupaten Bima ada, masalah jalan sudah bukan menjadi tuntutan yang potensial disampaikan warga. 

"Saat ini, kalau ngak ada aksi seperti pemblokiran jalan atau tindakan yang mengundang sensasi. Mana ada pemerintah degan sadar dan segera mau respon aspirasi warganya," ketus dia yang dihubungi wartawan Metromini via ponselnya itu.

Diakuinya, kondisi jalan yang parah ini antara Desa Sangia dan Desa Rangga Solo. Pihaknya meminta pemerintah langsung memperbaiki kondisi jalan agar tak menyebabkan hal-hal yang tak diinginkan.

Sementara itu, atas tuntutan warga Desa Rangga Solo, pihak Pemkab Bima yang dalam hal ini yaitu Dinas PUPR Kabupaten Bima, masih dikonfirmasi lebih lanjut. (RED)

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item