Blokir Jalan di Monta, Warga Keluhkan Pembabatan Hutan dan Tercium Adanya Konflik Lahan

Pemblokiran jalan yang terjadi di Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Minggu, 3 Juni 2018. METROMINI/Agus Guawan
KABUPATEN BIMA - Aksi pemblokiran jalan terjadi di wilayah Monta, Minggu, 3 Juni 2018 siang kemarin. Puluhan masyarakat asal Desa Pela, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima menggelar aksipemblokiran jalan raya dengan menumbangkan pohon kayu yang ada di pinggir jalan. 

Informasi yang dihimpun media ini, pemblokiran yang berlangsung sekitar pukul 12:00 WITA bertempat di Jalan Raya Lintas Tente–Parado tepatnya di atas lokasi Dam Pela Parado, Kecamatan Monta, sebagai bentuk protes masyarakat terhadap kerusakan lingkungan yang ada di sekitar wilayah mereka.

Seorang warga, sebut saja Fulan mengaku, pihaknya menuntut agar hutan tutupan negara yang ada di sekitar wilayah DAM Pela Parado dijaga dan dilestarikan. Kata dia, pihaknya berharap tidak ada lagi warga masyarakat yang melakukan pembabatan hutan di areal DAM untuk lahan pertanian dan atau perladangan apalagi di lokasi Hutan Tutupan Negara.

"Kami minta pemerintah menjaga kawasan di areal DAM. Dan jangan ada lagi kegiatan perladangan liar," ucap salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya itu, kemarin.

Menurutnya, pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Bima kurang memberikan perhatian penuh dalam penjagaan dan melestarikan hutan yang ada di wilalayah Monta dan Parado. "Kami mengkuatirkan suatu hari nanti akan terjadi banjir yang sama seperti tahun kemarin," terangnya.

Dia sangat berharap, Pemerintah Kabupaten Bima memberikan perhatian yang serius terhadap kondisi hutan di sekitar DAM Pela-Parado apalagi di wilayah Hutan Tutupan Negara. Jika wiayah hutan tutupan tersebut rusak jelas akan menimbulkan bencana alam seperti banjir di Kecamatan Monta pada saat musim hujan lalu. 

"Dilihat dari pengalaman sebelumnya, banjir di wilayah Monta dalam kurung waktu 3 tahun terakhir sering terjadi. Dan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah," tegasnya.

Selang beberapa saat setelah aksi berlangsung. Pihak dari kedua Desa yang bertetangga namun berbeda wilayah kecamatan itu melakukan upaya pertemuan guna membahas permasalahan yang terjadi. Hadir pula dalam pertemuan tersebut Kapolsek Monta IPTU Edy Prayitno, Kapolsek Parado IPTU Takim, Kepala Desa Pela Mualimin, personil Polsek Monta dan Polsek Parado serta Personil TNI dari Koramil Monta serta tokoh masyarakat dan tokoh adat desa serta pemuda dari Desa Pela.

Menurut Kepala Desa Pela, Mualimin mengaku awal mula permasalahan ini terjadi pada hari Jum’at (1/6 2018) lalu. Kata dia, pemblokiran jalan yang dilakukan oleh masyarakat ini dipicu adanya ketegangan yang terjadi di hari Jum'at lalu," tuturnya.

Ia mengaku, sebenarnya di lokasi blokir jalan akan diadakan pertemuan antara warga Desa Pela, Kecamatan Monta dengan warga Desa Parado Wane, Kecamatan Parado. Namun karena terlalu lama menunggu, akhirnya masyarakat Desa Pela yang sudah berada di lokasi lebih awal kembali ke rumahnya masing-masing. Sementara itu, sebagian warga Desa Pela lainnya melanjutkan pekerjaan di lokasi Hutan Tutupan Negara yang berada di atas Dam Pela-Parado tersebut.

Kades mengatakan, sebenarnya warganya datang dan mengusir warga lain selain warga Desa Pela yang melakukan penanaman pohon di lokasi hutan.

"Selain itu ada pula persoalan di mana warga Parado Wane yang melihat kejadian itu datang dan mengusir warga Desa Pela yang melakukan pekerjaan penanaman pohon di lokasi hutan tersebut," ucap Kades.

Di sisi lain, tokoh pemuda yang mewakili dari Desa Pela, Suparjan menginginkan agar tidak ada kegiatan apapun di hutan tutupan. Kata dia, apabila ada yang melakukan kegiatan agar diberikan efek jera sesuai hukum yang berlaku karna memang aktivitas mereka itu melanggar hukum

"Apabila ada masyarakat yang melakukan penebangan pohon di lokasi hutan tutupan negara agar ditindak dan diberikan efek jera sesuai dengan hukum yang berlaku. Karena menurut dia kegiatan pembabatan hutan apalagi hutan tutupan sudah jelas melanggar hukum," tegasnya.

Pada kejadian  itu,  Kapolsek Monta IPTU Edy Prayitno yang berkoordinasi dengan Kapolsek Parado  menghimbau kepada masyarakat  kedua desa agar tidak mengklaim kepemilikan hutan.

"Tidak ada satupun masyarakat baik dari warga asal Kecamatan Monta dan Kecamatan Parado yang boleh mengklaim kepemilikan hutan tutupan negara karena areal hutan tersebut merupakan milik negara," tegasnya.

Edy pun meminta kepada masyarakat untuk terus melestarikan hutan demi menjaga ekosistim yang ada, agar tidak terjadi bencana alam.  Ia meminta kepada masyarakat agar tidak mempermasalahkan hal ini berlarut-larut dan mengklaim diri dari kecamatan maupun suku mana pun.

"Mari dijaga dan dilestarikan alam kita untuk menjaga ekosistem agar bisa mengurangi resiko terjadinya bencana alam yang dapat merugikan kita semua. Untuk kedua desa agar masalah ini tidak berlarut–larut dan dapat menimbulkan hal lain yang tidak diinginkan," jelas dia.

Dia pun berharap,  agar masyarakat tidak mengedepankan langkah emosional dengan melakukan pemblokiran jalan seperti itu. "Tentu setiap permasalahan pasti ada solusinya," ujarnya.

"Saat ini kita masih berada dalam bulan yang penuh berkah dan ampunan. Bukan dengan cara melakukan blokir jalan tetapi dengan cara musyarawarah untuk mencapai mufakat dari semua pihak," ucapnya menambahkan.

Setelah mendengar arahan dari Kapolsek Monta, kelompok warga yang melakukan blokir jalan pun membuka kembali akses jalan yang diblokir sehingga arus lalu lintas dapat normal kembali. (RED)

Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

Instal Metromini di Android Anda

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

item