Diusir Pengujung di Persidangan Tipilu Terdakwa Ketua PDIP Kobi, "Wartawan: Provokatornya Jaksa Reza dan ini Bisa Dipidana"

Kondisi persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi korban, H. Muhammad Lutfi di Pengadilan Negeri Raba Bima, dengan terdakwa Ketua PDIP Kota Bima, Ruslan alias Parlan, Kamis, 7 Juni 2018. METROMINI/Agus Mawardy
KOTA BIMA - Kondisi ketegangan mewarnai persidangan yang kedua pada kasus yang mendakwa Ketua PDIP Kota Bima (Kobi), Ruslan alias Parlan yang dilaporkan oleh pihak Calon Wali Kota Bima, H. Muhammad Lutfi, Kamis, 7 Juni 2018.

Persidangan yang diagendakan pemeriksaan dan pengambilan keterangan dari para saksi itu dimulai sekitar pukul 16:00 WITA di ruang sidang timur dalam gedung Pengadilan Negeri Raba Bima. Ada dua saksi yang dimintai keterangan dalam persidangan itu. Keduanya adalah saksi pelapor, Anu Sirwan, SH dan juga saksi korban, H. Muhammad Lutfi atau Calon Wali Kota Bima.

Baca juga: Dalam Nota Keberatan, Pihak Parlan Menilai Dakwaan JPU Lemah

Kondisi persidangan yang didominasi oleh pengunjung yang diduga adalah pendukung H, Muhammad Lutfi itu sempat terjadi ketegangan dan pengusiran terhadap seorang wartawan yang sedang menjalani tugas peliputan di dalam ruang sidang tersebut.

Ketegangan terjadi saat saksi korban diperiksa. Di tengah sidang yang sedang berjalan. Tiba-tiba saja, seorang Jaksa Penuntut Umum, Reza Safetsila Yusa, SH meminta kepada majelis hakim, agar pengunjung yang mengambil gambar dalam persidangan ini harap dikeluarkan dari ruangan. Sontak saja, mendengar pernyataan jaksa itu, beberapa pengunjung lain pun berulah dan memandang ke arah si Agus, seorang wartawan dan ikut-ikutan mengeluarkan kalimat pengusiran kepada Agus.

"Bahkan ada seorang pengunjung yang berdiri dan ingin memaksa saya agar segera keluar dari ruang sidang. Karena tak ingin memperkeruh keadaan, saya pun keluar ruangan sidang," ungkap Agus Mawardy dengan perasaan tidak menyenangkan yang dialaminya.

Baca juga: Ini Isi Dakwaan JPU Pada Kasus Tipilu yang Mendakwa Ketua PDI-P Kota Bima

Agus mengaku, dirinya sebagai seorang jurnalis tentu dalam melakukan tugas peliputan dilindungi oleh Undang-undang dan kondisi persidangan yang dibuka oleh majelis berlaku untuk umum. Diakuinya, dalam melakukan tugas peliputan dipersidangan tersebut, dia memang mengambil gambar dan sempat mendokumentasikan jalannya persidangan dalam bentuk siaran langsung melalui akun facebook pribadinya yang bernama "Bima Mawardy".

Agus menilai, pelecehan profesi jurnalis telah terjadi dalam persidangan dengan terdakwa Ketua PDIP Kota Bima itu. Dan ia menuding Jaksa Reza sebagai provokator yang telah menista dengan meminta mengusir seorang jurnalis yang sedang dalam menjalankan tugasnya, yang setara kedudukannya dengan jaksa maupun hakim karena dilindungi dan diatur dalam undang-undang.

"Saya melakukan peliputan dalam persidangan yang terbuka untuk umum itu dilindungi oleh undang-undang. Dan jika ada yang menghalangi, jelas ini merupakan tindakan pidana termasuk cara seorang jaksa yang meminta mengusir wartawan di dalam ruang sidang tersebut," terang Agus yang juga Pimpinan Redaksi di media online Metromini itu.

Sementara itu, pasca pengusiran seorang wartawan itu, persidangan pun dilanjutkan dan diskor karena harus berbuka puasa dan menjalankan ibadah sholat maghrib. Rencananya, sidang ini akan dilanjutkan pada pukul 19:00 WITA masih dalam agenda pemeriksaan saksi korban atau H. Muhammad Lutfi.

Sedangkan pihak, jaksa penuntut umum, khususnya Jaksa Reza dan pihak Pengadilan Negeri Raba Bima masih diupayakan untuk dikonfirmasi lanjut terkait insiden pengusiran seorang jurnalis dalam persidangan kasus Tindak Pidana Pemilu itu. (RED) 

Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

IKLAN BACALEG DPRD KOTA BIMA

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

Balon Anggota DPRD Kabupaten Bima

item