Jaksa Reza: Ada Salah Pengertian, Maksud Saya Bukan ke Wartawan

"Pengunjung Sidang yang Mengusir Wartawan itu Akan Dilaporkan"

Jaksa Penuntut Umum, Reza Safetsila Yusa, SH. GOOGLE/www.berita11.com
KOTA BIMA - Pengusiran seorang wartawan yang meliput persidangan Tindak Pidana Pemilu (Tipilu) dengan terdakwa Ketua PDIP Kota Bima yang digelar di Pengadilan Negeri Raba Bima, Kamis, 7 Juni 2018 diklarifikasi oleh Jaksa Penuntut Umum, Reza Safetsila Yusa, SH.


Jasa Reza, usai persidangan Tipilu sekitar pukul 20:00 WITA mengundang Agus, wartawan yang diusir saat sidang di kantor Kejaksaan Negeri Raba Bima. Reza mengakui bahwa memang dirinya sempat menyampaikan agar pengambil gambar yang ada di ruang sidang untuk bisa dikeluarkan dari dalam ruangan. 

Namun, ia menegaskan, sasaran orang yang dimaksud dalam pernyataannya itu bukan ditujukan kepada wartawan. Tapi, ada dua orang pengunjung yaitu seorang laki-laki dan perempuan yang dikenalinya sedang mengambil gambar atau merekam jalannya sidang sore tadi.

"Sebelum saya menyampaikan pendapat untuk memperingatkan pengunjung yang mengambil gambar. Di awal sidang, Majelis Hakim pun sudah memperingatkan agar pengunjung tidak boleh mengambil gambar tanpa seijin majelis," ungkap dia, semalam.

Diakuinya, pada saat agenda sidang pemeriksaan Saksi Korban (H. Muhammad Lutfi), ada seorang pengunjung perempuan yang gelagatnya sedang mengabadikan proses persidangan. "Dan kepada pengunjung tersebut maksud saya agar bisa dikeluarkan. Bukan tertuju pada seorang wartawan yang duduk di kursi paling belakang yang memang sempat ditegur dan diminta keluar oleh pengunjung yang ada di sampingnya," jelas Reza.

Ia menegaskan, yang punya hak untuk mengeluarkan pengunjung sidang adalah petugas dari pengadilan berdasarkan perintah dari majelis hakim.. Makanya, sambung Reza, dalam hal ini jaksa pun meminta kepada majelis untuk menegur dan mengeluarkan orang yang dianggap mengganggu persidangan.

"Intinya, jaksa tidak bisa langsung membuat keputusan tapi menyampaikan atau meminta kepada majelis hakim. Sebab, kewenangan dalam ruang sidang adalah kewenangan penuh dari hakim dan petugas dari pengadilan," terangnya.

Posisi Agus saat meliput persidangan kasus Tindak Pidana Pemilu yang mendakwa Ruslan alias Parlan, Ketua PDIP Kota Bima, Kamis, 6 Juni 2018 sore. METROMINI/Agus Mawardy
Ia menjelaskan, seorang wartawan dalam arena persidangan bukanlah termasuk pengunjung. Wartawan memang bisa mengambil gambar dan melakukan peliputan dalam persidangan yang terbuka untuk umum dan telah mendapat ijin dari majelis hakim atau pihak Humas Pengadilan," terangnya.

Dia mengaku, adanya insiden ketegangan antara pengunjung dan seorang wartawan itu pun membuatnya heran. Dan memang saya juga tak kenal dengan Agus dan baru pertama kali ketemu dia di kantor saat ini.

"Insiden pengusiran oleh pengunjung terhadap Agus itu di luar maksud saya saat meminta majelis mengusir seorang pengunjung yang mengambil gambar saat jalannya persidangan. Dan ini memang ada kesalahpahaman dalam mengartikulasikan pernyataan saya oleh pengunjung yang duduk dekat wartawan (Agus-red) itu)," papar Reza menegaskan.

Atas kejadian pengusiran itu, Agus Mawardy setelah mendengar penyampaian klarifikasi dari Kepala Seksi Datun Kantor Kejari Raba Bima itu pun menilai ada mis yang terjadi. "Karena pihak Pak Reza sudah mengklarifikasi. Tentu saya meminta maaf karena telah menuding beliau sebagai provokator atas insiden pengusiran saya di dalam ruangan sidang oleh pengunjung," ucap Agus.

Dan terkait terduga pelaku pengusiran yang dikenal Agus merupakan sekelompok pendukung dari salah satu Calon Wali Kota Bima itu, Agus rencananya akan mengadukan mereka ke pihak yang berwajib.

"Pengunjung yang mengusir saya itu telah bersikap arogan dan melakukan tindakan di luar kewenangan mereka di dalam ruangan sidang. Jelas, sikap mereka menodai profesi seorang pewarta yang sedang melakukan peliputan dan tugas jurnalistik yang sangat jelas dilindungi oleh Undang-undang. Tindakan menghalangi tugas jurnalis adalah perbuatan tindak pidana murni," jelas Pimred Media Metromini itu,

"Harapannya juga, agar insiden seperti ini tidak terulang lagi dan bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua dalam menghargai tugas seorang jurnalis. Saya akan melaporkan mereka yang telah mengusir saat meliput berita di ruang persidangan yang mendakwa Saudara Parlan, Ketua PDIP Kota Bima itu," tutup Agus menegaskan sikapnya. 

Sementara itu, beberapa orang warga yang salah satunya tak dikenali identitasnya namun berciri mengenakan baju warna kuning dan berambut panjang yang terlibat aktif dalam pengusiran wartawan masih diupayakan untuk dikonfirmasi terkait sikap mereka di dalam ruang sidang sore tadi. (RED)


Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item