Potret Kusam dan Kesendirian Hidup Seorang Nenek di Desa Woro-Madapangga

Sosok Sa'adia (65), warga RT. 16/02, Desa Woro, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima yang hidup sebatang kara. GOOGLE/www.indikatorbima.com
KABUPATEN BIMA - Masih banyak dijumpai sosok tua renta yang tak bahagia menjelang usianya yang kian senja di wilayah Kabupaten Bima. Kisah kali ini, memotret kehidupan seorang Seorang nenek yang sehari-hari bekerja sebagai tukang urut. Nenek bernama Sa'adia (65) adalah warga RT. 16/02, Desa Woro, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima. 

Dalam melanjutkan kehidupannya, Sa'adia hidup sebatang kara di rumah yang beratapkan alang-alang dan berlantaikan bambu itu. Sungguh potret hidup yang mencengangkan!!!

Situs www.indikatorbima.com merilis, kehidupan Sa'adia yang cukup memprihatinkan itu sangat membutuhkan perhatian, terutama dari pemerintah daerah. Dikunjungi di gubuknya, Minggu (24/06/18) kemarin, tampak wanita tua renta itu harus berjuang sendiri di tengah tubuhnya yang renta. Sa'adia harus memaksa tibuhnya untuk terus menjalankan aktivias sehari-hari tanpa ada uluran tangan atau bantuan dari siapapun di rumahnya.


Sa'adia mengaku, selama ini, dia luput dari bantuan dari pemerintah, Dia mengaku, menerima bantuan dari warga lain dan nilainya pun sealakadaernya.

"Tidak ada bantua sama sekali selama ini," kata Sa'adia, dikutip dari www.indikatorbima.com saat berkunjung ke rumahnya, kemarin.

Tempat tinggal Sa'adia (65), warga RT. 16/02, Desa Woro, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima yang hidup sebatang kara. GOOGLE/www.indikatorbima.com
Kehidupan Sa'dia yang berhuni di rumah panggung 6 tiang, berlantaikan belahan bambu (biasa disebut sari dalam bahasa bima) tanpa anggota keluarganya yang lain. Ia benar-benar hidup seorang diri. Kadang, bila musim hujan tiba atap rumahnya bocor dan ia pun sibuk memperbaikinya sendiri.

"Tidak ada keluarga, saya tinggal sendiri di rumah," tutur Nenek tua renta itu.

Sa'dia mengaku, untuk melanjuitkan hidupnya dan mendapatkan uang, ia bekerja sebagai tukang urut. Penghasilannya pun diakuinya tidak menentu. Kata dia, upah pijitnya tak seberapa, bahkan ada yang mengganti jasanya dengan gula atau barang lainnya yang cukup murah harganya. 

"Jasa pijit saya tergantung dikasih sama orang. Ada yang kasih gula, ada kasih uang. Nilainya juga kadang-kadang Rp20 ribu, ada yang Rp30 ribu. Dan tidak setiap hari saya memijit orang," ungkap Sa'dia.

Sa'dia mengaku ikhlas dalam menjalani hidupnya saat ini. Mori ndai Anae, Kanae mpa kalembo ade. (Hidup kita Nak, memperbanyak lapang dada saja) 

"Sekalipun tidak ada perhatian dari pemerintah. Saya ikhlas saja. Karena hidup bagi saya adalah perjuangan dengan rasa ikhlas menghadapinya," tutur si Nenek dengan nada menggunakan bahasa Bima itu. (RED | WWW.INDIKATORBIMA.COM)

Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

Instal Metromini di Android Anda

IKLAN BACALEG DPRD KOTA BIMA

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

item