PT. Sanggar Agro "Peras Keringat" Pekerja, Sakit Saja Harus Kerja

Bupati menerima penyerahan tanah seluas 300 hektar kepada warga Desa Piong Kecamatan Sanggar dan warga Desa Oi Katupa Kecamatan Tambora, Kamis (16/2/2017) lalu. FOTO: HumasPro/PEMKAB BIMA
KABUPATEN BIMA - Empat tahun sudah PT. Sanggar Agro Karya Persada (SAKP) beroperasi dalam penanaman kayu putih di Kecamatan Tambora dan Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima. Pusat kantor PT. SAKP di Desa Oi Katupa, Kecamatan Tambora manajemennya dikeluhkan pekerja. PT tersebut pun dituding tidak pernah memberikan kesejahteraan yang layak bagi pekerja atau karyawannya.


Kondisi ini diungkap oleh seorang pekerja yang telah tiga tahun melayani perusahaan yang menuai konflik lahan dengan warga di dua lokasi operasionalnya, Piong-Sanggar dan Oi Katupa-Tambora. Pekerja yang merasa kecewa dengan janji dan manajemen perusahaan ini berinisial LK. Kata LK, selama tiga tahun mengabdi, dia tak pernah memdapatkan tunjangan atau jaminan kesejahteraan  apa-apa dari pihak perusahan.

"Semenjanjak kami masuk dan bekerja di perusahaan itu,  kami tidak pernah mendapatkan jaminan apa-apa," terang dia pada Metromini, Sabtu, (09/06/2018) malam.


Cara perusaha itu dia nilai keterlaluan. Bahkan, sambung LK, pihak perusahaan tidak pernah memberikan ijin kepada pekerja, baik pekerja dalam kondisi sakit atau ada halangain lain dan jika tak hadir, pasti langsung dipecat.

"Saya bekerja dari tahun 2015 sampai 2018. Perusahaan ini tidak pernah memberikan ijin kepada pekerjanya, Sakit saja tidak boleh dan langsung dipecat atau dicoret namanya. Begitulah yang terjadi selama tiga tahun saya bekerja di sana," kisah dia mengungkap manajemen perusahaan yang dinilainya hanya memeras keringat pekerja, tak sebanding dengan penghargaan dan aturan yang ada. 

Bukan itu saja,  kata dia, pada pekerjaan di lapangan, harus menyelesaikan pekerjaan penanaman seluas 1 Ha selama sehari. Dan jika dikerjakan hanya tiga orang upah hariannya Rp73 ribu saja per orang. Jika penanaman tidak mencapai target, upah itu pun dipotong pihak perusahaan.

"Perusahaan ini menargetkan penanaman oleh 3 orang seluas 1 Ha. Dan upah hariannya Rp73 ribu sehari untuk per orang. Kalau ngak sampai sehektar yang ditanam, upah itu dipotong lagi. Kami tidak bisa berbuat apa, kecuali mengeluh ke media saat ini," tutur dia.


Sambung dua, sempat pula pihak perusahan didemo oleh para pekerja. Dan pihak perusahaan tidak pernah menggubris apa yang menjadi tuntutan warga mengenai pendapatan karyawan yang menuai penurunan dan perjanjian awal dan semakin lama bekerja semakin tak ada nilai penghargaan, tak ubahnya sapi perahan saja. 

"Beberapa hari yang lalu, kami sempat demo ke pihak perusahaan. Tapi, pimpinan yang kabarnya orang batak itu tidak pernah mau menggubris aspirasi kami. Parah pokoknya, kami ini kayak sapi perahan dan diperlakukan semau pihak perusahaan saja." jelas dia.


Ia menambahkan, pada awal perjanjian kerja, untuk satu orang ditargetkan menanam sebanyak 145 pohon, sekarang sudah ditentukan target yang lebih tinggi lagi oleh pihak perusahaan sebanyak 240 pohon per hari.

"Dengan adanya target dinaikkan jumlah pohon yang harus ditanam setiap harinya. Harapan kami sebenarnya. pihak perusahaan jangan mengurangi gajiRp73 ribu per hari itu. Tapi, dalam setiap bulan selalu saja tidak cocok dengan kesepakatan awal. Pendapatan kami terus berkurang, dampaknya banyak karyawan yang juga keluar dari perusahaan," tuturnya.

Ia melanjutkan, pihak pemerintah lewat Disnakertrans Kabupaten Bima jangan tutup mata dengan keadaan warga yang bekerja di perusahaan sanggar agro ini. Keluhan ini tentu sudah didengar oleh pihak disnaker, tapi tak pernah mau melihat dan mendengar aspirasi kesusahaan yang dialami karyawan di sini. 

"Pejabat Pemda atau pihak Disnakernaker yang berkunjung ke perusahaan harusnya tidak mengabaikan keadaan karyawan dan menanyakan kondisi kami di sini. Pengaduan ini pun sudah disampaikan ke pihak disnakertrans walau tidak secara resmi. Susah keadaan kami sebagai karyawan, listrik di tempat menginap tidak ada dan pihak perusahaan tidak peduli sama sekali," tutup seorang janda beranak satu itu.

Dalam pemberitaan ini, PT Sanggar Aggro Karya Persada dan pihak Pemerintah Kabupaten Bima masih dikonfirmasi lebih lanjut. (RED)

Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

Instal Metromini di Android Anda

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

item