Walau Ibu dan Anak, Bupati dan Putra Mahkota Beda Dukung Calon di Pilkada Kota Bima

M. Putra Feriyandi atau Dae Yandi, putra Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri yang juda Putra Mahkota (Jena Teke) Kesultanan Bima. METROMINI/.Agus Gunawan. 
KOTA BIMA - Dualisme dukungan ditunjukkan keluarga Kesultanan Bima menjelang pemilihan Calon Kepala dan Wakil Kepala Daerah Kota Bima Tahun 2018. Terlibatnya keluarga istana di Pilkada Kota Bima dengan pencalonan Hj. Ferra Amalian (Anak Sultan Bima Putra Kahir) yang mendampingi Calon Wali Kota Bima, H. A. Rahman H. Abidin yang berkompetisi dengan dua pasangan lainnya yaitu Paslon Lutfi-Feri dan Pasangan Subhan-Wahyudin.

Pada momentum kampanye akbar yang dihelat sejak tanggal 19-21 Juni 2018. Gaya politik yang ditunjukkan keluarga istana menuai dualisme. Pasalnya, dukungan untuk Hj, Ferra Amalia yang diusung oleh PDIP, PKS dan Partai Demokrat sebagai Calon Wakil Wali Kota yang merupakan ipar Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri yang mejabat Ketua DPD II Partai Golkar Bima tidak sejalan. 

Hal ini ditandai dengan kehadiran Bupati Bima di acara kampanye Paslon yang didukung Partai Golkar yaitu Paslon Lutfi-Feri di acara silaturahmi akbar di Lapangan Serasuba, Selasa, 19 Juni 2018 kemarin dan dihadiri orang nomor satu di Kabupaten Bima yang merupakan ibunda dari Putra Mahkota, M. Putra Feriyandi atau biasa disapa Dae Yandi. 


Di saat kampanye bibinya, Umi Ferra berlangsung, Putra Mahkota Kesultanan Bima atau yang biasa disebut dengan istilah Jena Teke di Bima, tampak hadIR lebih awal di acara kampanye akbar Paslon MANuFER (Aji Man dan Umi Ferra) yang dilangsungkan di Lapangan Serasuba, Rabu, 20 Juni 2018 sore hari tadi.

Kehadiran yang berbeda antara Ibunda Dae Yandi atau akrab dipanggil Umi Dinda di acara paslon nomor dua yang walau kehadirannya dikabarkan akan menjadi juru kampanye namun ditolaknya diduga karena belum ada ijin dari Gubernur NTB. Dan munculnya Dae Yandi di kampanye bibinya yang menjadi calon wakil wali kota di paslon nomor satu mengundang banyak tanggapan dari warga.

Ada yang menilai politik keluarga istana cenderung tidak tegas dalam memberikan dukungan politiknya di Pilkada Kota Bima ada juga yang menilai dualisme ini adalah langkah yang bijak di tengah posisi dukungan partai politik yang berbeda pada dua sosok wanita yang menjadi icon atau corong keluarga istana saat ini yaitu Umi Dinda (Bupati Bima) dan Umi Fera (ipar Bupati yang merupakan anak dari Sultan Bima).

Selain itu, pada dua hari kampanye yang dipusatkan di Lapangan Serasuba yang berseberangan dengan Pandopo Bupati ada fenomena yang berbeda terhadap perlakuan pandopo kemarin dan hari ini. Pantauan pewarta media ini, di kampanye yang dihadiri oleh Bupati Bima gerbang Pandopo tertutup rapat, namun pada saat kampanye Aji Man dan Umi Fera, pintu terbuka lebar bahkan sepulang konvoi kampanye, Paslon MANuFER sempat berbincang lama di rumah dinas Bupati dan juga yang ditempati Umi Fera saat ini.

Baca: Sungguh Membahana!!! Lautan Massa di Kampanye MANuFER Isyarat Kemenangan Pilkada

Di tempat terpisah, Dae Yandi atau Jena Teke anak sulung dari Sultan Bima mendiang Almarhum H, Feri Zulkarnjain, ST (Mantan Bupati Bima) kepada media ini memberikan tanggapannya dalam menentukan sikapnya di Pilkada Kota Bima 2018. Kata Yandi, kediaman yang dihuni Ibundanya sebagai Bupati Bima diakuinya juga sebagai tempat tinggal bibinya yang mencalonkan diri sebagai Calon Wakil Wali Kota Bima (Umi Fera-red).

"Di rumah ini, Ibunda saya yang menjalankan tugas sebagai Bupati dan Umi Fera tinggal bersama. Rumah ini ada dua multi fungsi. Dan rumah ini sebenarnya rumah Paslon Calon Wakil Wali Kota dari nomor satu sebelumnya yang dialihfungsikan sebagai rumah dinas Bupati Bima. Tetapi ini juga ada dua multfungsinya," jelas Yandi. 

Kata dia, saat kampanye paslon nomor dua kemarin, pintu gerbang ditutup untuk bisa saling menghargai antara kedua sosok ibundanya ini. "Pintu rumah ditutup agar bisa saling menghargai keadaan saja karena antara Umi Dinda dan Umi Fera adalah keluarga. Karena Umi Fera yang lebih tua dan yang kecil menghargai yang lebih tua," terang Jena Teke yang tak jauh berbeda perawakannya dengan mendiang Sultan Feri itu, di teras Pandopo Bima, Rabu (20/6/2018) sore tadi.

Menurutnya, dengan saling menghargai membuat suasana lebih enak, Saat ini, bisa dikatakan Bupati Bima dan Umi Fera satu atap tinggalnya. Dan sesuai adat istiadat di Bima, yang lebih kecil memang harus bisa mengalah untuk menghargai yang tua yang juga saat ini sedang berjuang di Pilkada Kota Bima.

Ditegaskannya, pada pencalonan bibinya ini, dia memberikan dukungan lahir dan batin agar Umi Fera bisa menjadi Wakil Wali Kota Bima untuk 5 tahun ke depannnya, walau pihak keluarganya tidak semua sama pilihannya. Kehadiran di panggung kampanye MANuFER, sambung dia, sebagi bentuk dukungan pribadinya kepada Umi Fera dan tidak juga memberikan kepastian keluarganya bahwa semuanya akan ke pasangan MANuFER.

"Saya secara pribadi tetap mendukung pasangam MANuFER. Namun, bukan serta merta semua keluarga istana mendukung kehadiran saya di panggung tadi," pungkas politisi muda yang digadang-gadang juga akan menjaci calon legislatif di Kabupaten Bima di tahun 2019 mendatang, (RED)

Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

Instal Metromini di Android Anda

IKLAN BACALEG DPRD KOTA BIMA

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

item