Zohri Ku Sayang, Fauzan Ku Malang, "Negeri Sebatas Viral"

Marhamah Junaidin. METROMINI/Dok
Oleh: Marhamah Junaidin

OPINI - Zohri? Ah siapa sih yang tidak kenal zohri sekarang. laki-laki asal lombok yang menjuarai lomba lari U-20 100 meter itu tiba-tiba viral karena meraih medali emas dalam perlombaan tersebut di Finlandia.

Semua mata tertuju padanya, mengelu-elukan. Semua pihak berbondong-bondong memberikan apresiasi berupa pujian maupun materi seperti uang ratusan juta, beasiswa pendidikan hingga S3, renovasi rumah, membangunkan rumah hingga diundang oleh RI 1 ke istana Bogor.

Mereka juga tidak ketinggalan mengekspos sisi romantisme perjuangan Zohri mulai dari rumahnya yang seperti gubuk, keseharian yang kesulitan bahkan sering berpuasa hanya untuk berhemat dan tidak punya uang. Zohri juga dibahas dari aspek keberangkatannya ke luar negeri bermodal uang bantuan dari ketua organisasi atletik Indonesia.


Dia yang berjuang dalam keterbatasan dan penuh kesusahan tiba-tiba dikelilingi oleh hingar bingar sambutan. Zohri pasti tidak menduga mendapatkan itu semua karena untuk menang pun dia dan tim di belakangnya tidak ada yang menduga.

Di tengah ramainya dunia maya memberitakan dan menceritakannya, muncul satu artikel yang mengekspos salah satu keadaan yang berkebalikan dari Zohri. Dunianya senyap... jauh dari suara pujian, eluan, tak ada kelip jepretan dan sorotan kamera media. Tak ada berita apalagi apresiasi untuknya. 

Kedatangannya sepi dari sambutan Keberangkatannya tidak jauh lebih baik dari itu. Dia berangkat bermodal biaya dari penyelenggara dan tambahan dari tabungan orangtuanya. Dialah Fauzan. Sosok muda peraih medali emas Pertandingan Karate internasional di Ceko. Prestasinya tidak terekspose sama sekali. Jauh dari apresiasi negara hingga salah satu media memberitakannya.

Salah satu lembaga negara pun memberikan hadiah pada Fauzan setelah ada berita itu. Itulah fakta yang terjadi antara Zohri dan Fauzan yanh jauh berbeda. Kata kuncinya ada pada "Viral". Ya viral. Di negeri ini prestasi besar tidak ada harganya dan tidak dipandang jika tidak viral. Sebaliknya, jika viral maka semua pihak pemerintah berebutan memuji dan mengelu-elukan sang juara. Kehidupan sang juara tiba-tiba akan berubah 180 derajat.


Tidak hanya kasus ini saja, yang lainnya juga demikian. Bahkan sering sekali terjadi seperti dalam dunia badminton, balap sepeda, maraton, debat, olimpiade dan sebagainya. Karena di antara mereka ada yang tidak viral maka nasib mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang yang tidak berprestasi lainnya bahkan lebih terpuruk.

Sangat miris dan tampak sekali jika penguasa negeri ini hanya mencari pencitraan. Negeri ini memperhatikan rakyatnya bukan karena paham hakikat dari seorang penguasa atau pemimpin.

Pemimpin adalah seorang pelayan. Dia bertanggungg jawab atas baik-buruknya rakyat yang dipimpinnya. Ibarat penggembala, pemimpin itu adalah penggembala yang bertanggungjawab jawab atas gembalaannya. Tersedianya rumput yang cukup, terjaganya gembalaan dari ancaman binatang buas, terlindungnya dari jurang, duri serta jebakan adalah tugas dan kewajiban penggembala. Maka penggembala tidak selayaknya hanya mengurusi gembalaannnya saat ada sorot kamera saja.

Dalam syair Sunan Kalijaga berbunyi: "Cah angon, bocah angon... penek no belimbing kuwi. Lunyu-lunyu penek no kanggo mbasuh dodot iro" (penggembala, penggembala... panjatkan belimbing itu. Meski licin terus panjat untuk mencuci pakaian)

Itu bermakna bahwa seorang pemimpin harus menjadi pelayan bagi rakyat dan memastikan rakyatnya terurus dengan baik terutama dalam melaksanakan shalat 5 waktu dan rukun Islam serta konsekuensi dari hal tersebut yakni aturan Allah. Meski susah dan mengorbankan keselamatan dan kenyamanan hidupnya, pemimpin harus melakukan itu karena dengan itu dosa dan kesalahan akan diampuni.

Jika hakikat pemimpin adalah demikian maka tidak selayaknya pemimpin mendahulukan nafsu dan obsesi pribadinya. Para calon pemimpin juga akan pikir berkali-kali untuk mencalonkan dirinya karena kewajiban dan konsekuensinya sangat besar. Kalaupun mencalonkan diri mereka akan berpegang teguh pada syariat Pencipta dan berkomitmen untuk mengurusi rakyatnya dengan aturan mulia tersebut apapun resikonya.

Pertanyaannya, adakah dari para calon pemimpin sekarang yang seperti di atas? Masihkah kita menyangsikan penerapan syariah Islam kaffah dengan sistem pemerintahan khilafah  sebagai solusi bahkan menolaknya mentah-mentah tanpa mencari tahu dan mengkajinya terlebih dahulu dari dalil-dalil yang ada?***

____________
*Penulis adalah Co. Akademi Menulis Kreatif Regional Bima dan Pengurus Yayasan Pendidikan Anak dan Keluarga Muslim (YPAKM) Marhamah, Desa Tente, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima

Post a Comment Komentar Umum

emo-but-icon

IKLAN BACALEG DPRD KOTA BIMA

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

Iklan Ideal Karaoke

Balon Anggota DPRD Kabupaten Bima

item