Kurikulum Agama Dikaji Ulang, Waspada Infiltrasi Sekularismme

Ilustrasi. GOOGLE/Image
Oleh: Heny Kusmawati, S.Pd

OPINI - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (Ketum PBNU) KH Said Aqil Siradj mendesak agar mengkaji ulang kurikulum pendidikan agama islam Sebagaimana dikutip dari posmetroinfo, Ia mengusulkan agar bab tentang sejarah yang dominan hanya menceritakan perang dikurangi porsinya. 

"Yang diperhatikan adalah kurikulum pelajaran agama di sekolah. Saya melihat pelajaran agama di sekolah yang disampaikan sejarah perang, misalnya perang badar, perang uhud, pantesan radikal," katanya dalam acara konferensi wilayah PW NU Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Minggu, akhir bulan Juli 2018 lalu.

Jika dicermati, pernyataan di atas seolah menggambarkan kepada kita bahwa adanya sejarah peperangan pada masa kejayaan islam menunjukkan sikap radikal. Sementara islam sendiri adalah agama yang damai, tidak pernah mengajarkan kekerasan. Jika pun dalam shiroh menggambarkan tentang peperangan, itu bukan berarti seperti perang yang digambarkan dalam kondisi saat ini.

Penggambaran perang atau jihad saat ini hanyalah salah satu cara musuh-musuh islam untuk menakut-nakuti kaum muslim. Seperti adanya tindakan teror dengan menjatuhkan bom dan aksi teror lainnya. Dengan tindakan teror semacam ini, alih-alih membuat kaum non islam kagum, justru mereka takut karena islam dianggap ekstrem.

Adapun jihad yang sebenarnya justru semakin menumbuhkan ghiroh, semangat dalam benak dan dada kaum muslim. Betapa tidak, semua peperangan yang tercantum dalam shiroh bukan sembarangan perang. Tapi, perang yang dibingkai dalam syaria’t Islam. Perang yang akan membuat musuhpun terpana akan keindahan aturan perang dalam Islam. Hingga membuncah keinginan masuk ke dalam Islam.
Ilustrasi. GOOGLE/www.mediaoposisi.com
Ikut merasakan manisnya iman dan keindahannya. Karena perang dalam islam memiliki banyak aturan diantaranya dilarang membunuh anak-anak, perempuan, tidak semena-mena terhadap yang sudah mati, tidak mencincang, tidak boleh menghancurkan tempat ibadah dan bangunan lainnya, tidak menebang pohon dan merusak tanaman, tidak membunuh orang yang menyerah. Memperlakukan tawanan dengan baik, menerima tawaran damai.

Dengan gambaran perang dalam islam di atas, seharusnya bukanlah sesuatu yang harus ditakuti apalagi mau dihapus dalam kurikulum pendidikan islam karena menghapus gambaran perang atau jihad dalam shiroh sama halnya menghapus ayat-ayat al-qur'an tentang perang. Karena perintah perang atau jihad merupakan kewajiban dari Allah SWT, sebagaimana Firman-Nya dalam Al-qur'an Surat al-Baqarah ayat 216: 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Juga jihad merupakan aktivitas untuk melawan kemusrikan bukan mendzolimi orang lain. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bersabda “dari Anas bahwa Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: 

“Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan hartamu, jiwamu dan lidahmu.” (Riwayat Ahmad dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Hakim).

Adapun tuduhan perang/jihad sebagai tindakan radikal merupakan bentuk penghinaan terhadap ajaran Islam. Bagaimana tidak? Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhamad SAW yang aturannya bersumber al-qur'an dan hadits. Dengan aturan ini, maka seluruh persoalan yang dihadapi oleh umat manusia akan bisa terselesaikan, termasuk pengaturan dalam peperangan.

Karena Islam diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW Sang Terpercaya, sudah dalam keadaan mulia. Bentuk memilih dan memilah ini adalah aktivitas yang berbahaya. Berbahaya bagi keimanan dan ketaqwaan kita. Inilah racun sekulerisme. Racun yang berusaha sekuat tenaga memisahkan agama dari sendi-sendi kehidupan. Menimbulkan rasa seolah-olah kita lebih tahu dari Allah yang mewajibkan perang. Seolah-olah yang menolak peperangan lebih mulia dari Rasulullah SAW dan para sahabat yang dijanji surga. Yang mereka berkali-kali melaksanakan qital. Hingga tubuh pun penuh bekas luka.

Mereka tak malu dengan bekas luka karena qital. Justru berbangga karena lukanya yang akan menjadi bukti kesungguhan mereka membela agama Allah yang mulia. Mendapat tiket VIP masuk ke surga dengan gelar syuhada. Semoga ayat ini menjadi pengingat bagi kita bahwa Allah tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. 

"Dan boleh jadi engkau membenci sesuatu namun sesungguhnya ia baik bagi dirimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu namun sebenarnya ia adalah buruk bagi dirimu. Dan Allah lebih mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui apa-apa.” (TQS. Al Baqarah, 2: 216). 

Wallahua’lambishshawab. ***

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item