Protes Proyek Milik Dewan di Campa, Aktivis Dikejar dengan Parang dan Melapor ke Polisi

Aktivis SMI Bima, Dhilon Sitorus, pemuda Desa Campa, Kecamatan Madapangga, Kabupaten  Bima yang melaporkan kasus dugaan pengancaman terhadap dirinya di Mapolsek Madapangga, Kamis (30/8/2018). METROMINI/Dok
KABUPATEN BIMA - Seorang aktivis asal Desa Campa, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Dhilon Sitorus yang memprotes pekerjaan proyek yang diduga milik Ajhhar, SE, seorang anggota DPRD Kabupaten Bima. Dhilon mengaku, usai shalat magrib, dua hari yang lalu (Selasa, 28 Agustus 2018), dia dikejar oleh seorang preman dengan menggunakan senjata tajam jenis parang.

Dhilon mengku, intimidasi yang dirasakannya saat dikejar oleh oknum yang diudga preman usai shalat magrib di sekitar halaman Masjid Nurul Huda yang terletak di RT. 02/02,  Desa Campa. Selasa (28/08/18). 

"Diduga peristiwa ini karena persoalan pembangunan jalan tani yang menggusur gerbang sekolah SMPN 3 Madapangga," ungkap Dhilon, Rabu (296/8/2018) kemarin.

Ia menyebutkan, seseorang berinisial SM warga asal RT 09 Desa Campa yang diduga sebagai aktor preman dan tidak terima dengan tindakan protes terkait proyek milik oknum anggota DPRD Kabupaten Bima tersebut. 


Aktivis Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI ) Bima ini menceritakan, Salasa lalu, ia memang menginforamsikan tentang persoalan pembangunan jalan tani kepada jamaah shalat magrib dengan  menggunakan pengeras suara masjid.

"Saat itu saya sedang memberikan informasi menggunakan pengeras suara di masjid. Dan usai memberikan informasi serta penjelasan terkait proyek pembangunan jalan tani tersebut, pas keluar masjid bersama dengan jamaah lainnya, tiba-tiba SM memanggil saya dengan nada mengancam," ungkap Dhilon, Kamis (30/8/2018) pagi tadi.

Kata dia, ia tidak langsung mengindahkan panggilan SM. Namun, ia kembali ke rumahnya yang kebetulan dekat dengan masjid tersebut dan memberitahukan ayahnya. Setelah ayahnya diberitahu, kata dia, barulah ia mendengarkan panggilan SM bersama ayahnya. 

"Belum sempat mendekat, SM langsung mengeluarkan parangnya dan mengejar saya. Saya pun lari, kalau tidak saya mungkin sudah di bacok," kisah Dhilon yang juga pengurus Forum Komunikasi Mahasiswa Madapangga ini.

Lanjut dia, ayah Dhilon yang melihat kejadian itu berusaha menghadang dan melerai SM bersama masyarkaat yang ada saat itu, Akhirnya, ia pun berhasil meloloskan diri dari amukan SM dan melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak yang berwajib, Kamis, 30 Agustus 2018 siang tadi.

"Llaporan kepolisian sudah saya masukkan. Watak premanisme yang ancaman gerakan dan membungkam demokrasi negeri ini jangan dibiarkan. Ini akan menjadi budaya yang mengancam demokrasi dan terwujudnya keadilan di neheri ini. 

"Kasus ini akan terus dikawal. Massa aksi dari pemuda dan mahasiswa di luar Desa Campa siap bersolidaritas. Walau pun keberadaan pemuda di Desa Campa terkesan acuh dengan maslaah ini, Namun, melawan penindasan yang merugikan orang banyak dan pelaku kriminal adalah tugas kita bersama," tandas dia. 

Saat ini, dirinya sedang membangun konsolidasi juga terkait peralihan jalan ekonomi yang telah merusak fasilitas dan tanah milik SMPN 3 Madapangga.

"Pihak kontraktor dan pemilik proyek harus bertanggung jawab atas kerusakan fasilitas SMP 3 Madapangga. Dan jika ditemukan ada masalah hukum dalam proyek ini pun akan kami laporkan juga ke pihak yang berwajib," jelas dia.

Senada dengan Dhilon, pemuda lainnya, Syahrir Burhanuddin mengungkapkan, anggota DPRD Kabupaten  Bima yang bernama Ajhar, SE diakuinya melaksanakan proyek membuat jalan tani dari dana aspirasi. 

Menurutnya, proyek ini mungkin tidak ada fasalah karena sudah ada di program pemerintah sebelumnya. Namun, oleh pihak desa dan tokoh masyarakat telah disepakati bahwa jalan tersebut tidak akan mencaplok lahan sekolah.

"Dalam praktekbya proyek jalan tersebut menyerobot lahan SMPN 3 Madapangga yang ada di Desa Campa. Hal inilah yang diprotes oleh beberapa aktivis. Dan berujung pada pengejaran aktifis oleh oknum yang diduga preman desa se tempat," ujar dia, Kamis (30/8/2018) pagi tadi. 

Diakuinya, sikap  anti kritik dan melanggar kesepakatan serta tidak demokratis adalah ciri miskin atittude yang dimiliki oleh wakil rakyat yang bernama Ajhar, SE. Semestinya, sebagai anggota dewan sekaligus penanggungjawab proyek tersebut tidaklah elok dan elegan membiarkan adanya konflik sosial dan horisontal di balik proyek yang sedang dikerjakannya saat ini.

"Sosok oknum dewan ini sudah terlihat karakternya. Kami hanya bisa menghimbau semoga yang seperti ini tidak ada yang kembali lolos menjadi wakil rakyat di hasil Pemilu tahun 2019 mendatang," tandas dia.

Di sisi lainnya, anggota DPRD Kabupaten Bima, Ajhar, SE dan juga oknum warga yang terlapor dalam kasus dugaan pengancaman SM belum berhasil dikonfirmasi. Sementara itu, terkait laporan Dhilon, Polsek Madapangga atau pihak Polres Bima sedang diupayakan untuk dikonfirmasi terkait kejelasan atas laporan polisi ini. (RED)

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item