Sejak Tanggal 5 s/d 10 Agustus 2018, 482 Gempa Susulan di Lombok, 20 Kali Dirasakan

Hasil pembacaan gempa susulan dari seismograf terhitung bahwa gempa susulan dari tanggal 5 s/d 10 Agustus 2018 pukul 22:00 WITA di Lombok sebanyak 482 kali. METROMINI/Dok
KLU - Dalam Group Whatsapp "Siaga Benaca NTB", Kepala Bidang Data dan Informasi Balai BMKG Wil. IV - Makassar, Daryatno, SP, MP merilis update gempa bumi Lombok Magnitudo 7.0 yang terjadi hari Minggu, 5 Agustus 2018 sampai dengan hari Jum;at tanggal 10 Agustus 2018 pukul 22:00 WITA.

Menurut Daryatno, setelah melihat dan menghitung grafik getaran di seisismograph secara terus-menerus sejak tanggal 5 s/d 10 Agustus 2018 hingga pukul 22:00 WITA, tercatat sebanyak 482 gempa susulan. Dan yang dirasakan oleh manusia ada sekitar 20 kali,

"Sejak gempa di hari Minggu (5/8/2018) sampai dengan semalam jam 22:00 WITA. Ada 482 gempa susulan di Lombok," tulis Daryatno, dini hari ini.


Hasil deeteksi seismograf terhadap gelombang seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi. METROMINI/Dok
Mantan Kepala BMKG Bima menyebutkan, cara menghitung gempa dapat digunakan alat yang bernama atau seisismograph. Alat ini biasanya berada di stasiun geofisika. Untuk di bagian Indonesia wilayah timur, seisismograph sudah ada di beberapa tempat seperti di Mataram, Bali, Waingapu dan juga di Makassar. 

Dia menerangkan, secara prinsip kerja. seismograf memiliki instrumen sensitif yang dapat mendeteksi gelombang seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi. Gelombang seismik yang terjadi selama gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram.

"Dari prinsip kerja tersebut kita dapat menghitung gempa bumi yang terjadi," ujarnya. 

Dia menjelaskan, pada dasarnya, lempeng bumi bergerak terus dan dinamis. Lempeng bumi pun mengalami saling terjadi penyusupan dan tumbukan di beberapa tempat ada baik yang berpotensi aktif dan juga pasif.

"Di wilayah Pulau Bali, Lombok, Sumba, Sumbawa dan juga Flores termasuk lempeng bumi paling aktif pergerakannya," tutur dia, 

Add caption
Dalam peta di atas, lanjut dia, bisa dilihat wilayah penyusupan lempeng ada pada titik merah dan kuning. Pada titik itu adalah lokasi potensi terjadinya gempa bumi. 

"Dalam peta terlihat garis-garis patahan lempeng. Dan wilayah penyusupan lempeng ada titik merah kuning. Lokasi tersebut potensi terjadinya gempa.bumi," tandasnya.

Dikabarkan sebelumnya, penjelasan dari BMKG terkait penyebab terjadinya gempa Magnitudo 7,0 di Lombok pada daerah epiceter yaitu di Lombok Utara.

"Analisi terhadap gempa dan dampaknnya ini terlebih dahulu dilakukan. Sehingga kita bisa tahu jenis dan penyebab gempa ini seperti apa. Dan hasil analisa, gempa di Lombok terjadi karena Pulau Lombok merupakan pulau yang berdekatan dengan batuan yang patah atau disebut sesar naik Flores. Di mana patahan tersebut panjangnya yaitu dari Flores sampai Bali," ujar Kepala BMKG Pusat Prof. Dwikorita Karnawati,M.Sc, P.Hd, dalam konpers yang digelar hari Rabu (8/8/2018) lalu.

Dwikorita mengatakan, saat patah ada energi kekuatan yang dikeluarkan dari dalam bumi dan ini sudah terjadi 200 tahun yang lalu sehingga gempa kemarin merupakan pengulangan dari 200 tahun tersebut. Saat ini, BMKG hanya bisa membaca dari patahan yang kemarin. Energi besar dan kuat telah dikeluarkan yang mana energi tersebut merupakan energi yang tersimpan selama 200 tahun yang lalu. dan masih ada energi yang tersisa dan belum keluarkan.

"Energi yang sudah dikeluarkan dengan ditandai guncangan gempa susulan. Itu merupakan mekanisme alam menuju ke proses stabil menghabiskan energi yang tersisa. Jika tidak keluar, maka masih ada energi yang tersimpan ibarat bom waktu," jelasnya.

Diakuinya, kemungkinan sangat kecil terjadinya gempa yang besar karena energi yang besar telah dikeluarkan. "Untuk gempa susulan akan terus terjadi sampai beberapa minggu ke depan. Bahkan diperkirakan sampai empat minggu. Namun dengan guncangan yang kecil dan makin melemah," tutup Dwikorita.


Kepala Bidang Data dan Informasi Balai BMKG Wil. IV - Makassar, Daryatno, SP, MP. METROMINI/Dok
Kembali ke Daryatno. Setelah digelarnya konfrensi pers pada hari Rabu (8/8/20187) malam. Ggempa berkekuatan 6,2 SR terjadi di Lombok Utara di hari Kamis (9/8/2018) siang. Setidaknya, gempa yang membuat rasa traumatik dan hancurnya beberapa bangunan di pulau itu pun dikabarkan menewaskan dua orang warga. Al hasil, keraguan warga dengan pernyataan pihak BMKG saat konfrensi pers itu pun terkuak,


Menanggapi keraguan warga sbegaimana yang berseliwaran di sosial media. Menurut Daryatno, penjelasan secara keilmuan memang seperti yang disampaikan Kepala BMKG. Dan yang jelas, sebagai manusia tidak bisa memprediksi di luar kuasa alam dan kehendan Sang Pencipta. 

"Secara ilmu kegempaan, apa yang dijelaskan Pimpinan kami memang begitu teorinya. Tapi, kita tidak bisa memprediksi di luar kuasa alam. Adapun bencana ini adalah kehendak Allah SWT. Kepada Allah tentunya kita serahkan urusan di tengah usaha dan doa yang kita lakukan," tandas Daryatno kepada Metromini, subuh hari ini. (RED) 

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item