Mengkonstruksi Kearifan Lokal dan Kepemimpinan Religius di Bima

Muhadi, Pemerhati Sosial Politik, Alumnus Magister Health Administration and Policy Universitas Airlangga. METROMINI/Dok

Oleh: Muhadi

OPINI - Dana Mbojo” atau Daerah Bima pernah menorehkan sejarah tinta emas di puncak kejayaan di Abad 17 dan 18, tepatnya di masa Kesultanan Bima. Kehidupan Islam, Kesultanan dan rakyat menjadi trilogy kesatuan struktur dasar yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan filosofis masyarakat Bima. Rujukan utama adalah Al-Qur,an dam Sunnah. Masyarakat dibentuk dengan nilai-nilai luhur keislaman. Situs-situs  dan nilai budayanya masih terjaga hingga kini baik dalam kehidupan beragama, sosial dan budaya di tengah masyarakat bima saat ini.. 

Melalui Al-Qur,an masyarakat dipandu dengan nilai kebenaran. Bersumber dari sinilah rakyat dana mbojo bangkit menjadi masyarakat yang beradab dan berbudaya. Artinya, “Perubahan” hanya akan bernilai signifikan jika seorang pemimpin dapat melakukan tranformasi Al-Qur’an menjadi sumber hukum dan berkehidupan didalam birokrasi masyarakat. Sejarahwan Islam, Budi Ashari mengatakan bahwa “tak ada yang berubah di zaman sekarang, semua akan terulang pada pola yang sama. Sejarah adalah perisai dan sekaligus tameng membangun masyarakat. 

Soekarno mengatakan “Jangan Lupakan Sejarah”, sebuah refleksi dalam membangun gagasan masyarakat dan melanjutkan cita-cita perjuangan. Sejarah akan menjadi jembatan penghubung bagi orang-orang yang berfikir mendalam tentang makna zaman. Sesungguhnya Kebangkitan dan perubahan masyarakat tidak terlepas dari analogi sejarah. Terbukti dalam Al-Qu’ran sudah banyak dijelaskan tentang kisah kebangkitan dan runtuhnya satu masa peradaban. 

Kesultanan Bima yang di mulai Sultan Abdul Kahir I (1640-1682) hingga Sultan Muhammad Salahudin (1920-1943) telah sukses membangun peradaban masyarakat selama berabad-abad. Kejayaan Islam Dana mbojo mencapai punjak kejayaannya ketika Islam dan Masyarakat menyatu. Al-Qur’an benar-benar menjadi Rujukan kesultanan membangun pondasi masyarakat Bima. Kesultanan membangun system sosial, ekonomi, pendidikan, hukum berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an. Al qur’an sebagai sumber hukum yang tinggi. 

Tugas kepemimpinan zaman sekarang adalah melakukan tranformasi nilai-nilai yang ada dalam Al-qur’an kedalam konteks kekinian tanpa ada kontradiksi gagasan.

Catatan Sejarah Kesutanan dirangkum dalam Kitab BO Kesultanan Bima dapat dibagi menjadi 4 pilar utama, yaitu pertama, BO sangaji kai (Catatan penting terkait Lebena’e (Imam) dan Cepelebe. Kedua, BO bicara kai (Catatan Tata pamong pemerintahan/Good Governance). Ketiga, BO bumi ruma (Catatan penting adat- Istiadat/Culture & Civilization). Keempat, BO Qadi (Catatan Penting Yurispundensi Hukum Islam dan Dakwah). 

Narasi sejarah ini menjadi bagian dari referensi atau catatan khusus untuk menghidupkan ruh sejarah kesultanan Bima kembali dengan konteks kekinian.

Membangkitkan generasi sekarang tidak terlepas dari upaya membangkitkan ruh sejarah dan Kurikulum Kekinian. Masa Kejayaan Bima telah sukses dibuktikan dan melahirkan generasi terbaik yang menjadi salah satu rujukan kaum Muslim di Bumi Nusantara. Di Abad 19 dibuktikan dengan putra-putra daerah dikirim ke timur tengah untuk mendalai Islam, tidak heran lahir Tokoh besar banggan dou mbojo yaitu Syaikh Abdul Ghani Al Bimawi (Almahdali) Syaikh Abdul Ghani lahir di paruh terakhir abad ke-18 tahun 1780 M di Bima.

Foto Penganugerahan Silver Star Kesultanan Bima Tahun 1924. GOOGLE/www.mbojoklopedia.com
Imam besar Masjidil Haram dan merupakah tokoh berpengaruh di jaman ketika pra kemerdekaan. Dari madrasah beliau melahirkan tokoh hebat termaksud pendiri NU dan Kakek buyut dari TGB Abdul Majdi (Gubernur NTB periode 2008-2018) pendiri Nahdatul Wathan (NW). Proses kaderisasi kesolehan individu telah membentuk suatu system pendidikan. Siklus ini berlangsung dari masa pemerintahan kesultanan hingga kesultanan terakhir.

Dalam struktur organisasi kesultanan Bima, Majelis Paruga Suba adalah majelis tertinggi yang membawahi tiga majelis, yakni majelis hadat, majelis tureli, dan majelis Islam (syar’iyyah). Majelis Syar’iyyah dipimpin oleh seorang Qadli/Imam yang beranggotakan lebe (imam) yang tidak memimpin sholat akan tetapi memimpin masyarakat di struktur menengah. Majelis ini diantara fungsinya memperkuat struktur kesultanan dan menjadi barometer pengawasan rakyat dalam menjalankan nilai-nilai agama.

Masyarakat mendapatkan dipantau dengan baik di bawah bimbingan para Imam (lebe). Seiring perkembangan zaman dan perubahan kebijakan fungsi lebe menjadi sempit, sebatas imam sholat di masjid. Era moderenisme juga telah mempersempit istilah masjid, masjid telah didektruktif secara fungsional. Jika dibuat parameter, maka masjid menjadi parameter perubahan masyarakat.

Sebanyak ±200.000 jiwa jumlah penduduk Kota Bima. ±95% adalah muslim dan sisanya adalah agama lain. Artinya hampir seluruhnya penduduk dana mbojo adalah Islam. Secara analogi dan psikologis menggambarkan masyarakat islamis, agama islam menjadi basis identifikasi masyarakat. jati diri islam hadir di dalam sendi-sendi kehidupan. Pola interaksi dan pergaulan setidaknya mencerminkan masyarakat muslim.

Selayaknya bangunan maka harus dipersiapkan dengan bahan dasar material terbaik sebelum menjadi bangunan yang kokoh. Mindset utama yang harus di bangun adalah dengan memproyeksi Sumber Daya Manusia yang soleh. Menciptakan SDM soleh adalah suatu proses yang sistematis dan mengakar. Daya dukung harus terpenuhi secara massif, dimulai dari kebijakan, sarana dan prasarana, kurikulum dll. 

Kesolehan adalah masalah prinsip, memasyarakat baik dalam aspek pendidikan, ekonomi, hukum sosial dan budaya. Nilai Kesolah tidak hanya di mimbar-mimbar masjid akan tetapi dapat menjalar ke dalam sendi-sendi masyarakat. Tugas pemimpin adalah menciptakan nilai kesolehan birokratis kedalam manajemen pemerintahan. 

Pada sisi lain dan kekinian ancaman faktor eksternal cukup besar yaitu arus globalisasi misalnya virus hedonism, SEPILIS (Sekularisme, Prularisme dan Liberalisasi). Virus apatisme dan individualism juga mulai menjangkiti masyarakat dana mbojo. Kesenjangan antara indentitas, sejarah dan realitas menjadi masalah (gap). Tugas pemimpin adalah mengembalikan identitas itu sesuai dengan arah dan harapan agama.

Nilai filosofis dasar “MAJA LABO DAHU” (Malu dan Takut), bukan sekedar slogan belaka seperti boneka, Slogan ini harus menjadi ruh Pergerakan dan Perjuangan yang hidup kembali di Masyarakat. Ada struktur Prinsip “Tauhid” yang dibangun, kemudian membentuk tatanan “NGGAHI RAWI PAHU” (Perkataan sama dengan Perbuatan) sebagai ladang amal kebaikan. Oleh karena itu slogan perubahan harus relevan dengan nilai filosofis tersebut. 

Setidaknya ada tiga point penting yang perlu dipahami. Pertama, menghidupkan nilai-nilai sejarah adalah tugas kita bersama sehingga dapat terpotret dengan baik di masa sekarang dengan konteks struktur masyarakat kekinian. Kedua, sejarah bukan sekedar simbol-simbol yang terpajang tanpa makna, tapi simbol sejarah yang bisa hidup dengan makna subtansi didalam birokrasi. Ketiga, titik Temu kebangkitan dan perubahan adalah upaya menyelaraskan “Kondisi masa Lalu, sekarang dan masa depan”. Hal ini akan terwujud apabila sosok pemimpin yang religius hadir untuk mempersatukannya. 
___________
Penulis adalah Pemerhati Sosial Politik, Alumnus Magister Health Administration and Policy Universitas Airlangga.

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item