Menyikapi Penanggulangan Bencana Gempa Lombok Oleh Pemerintah


Kondisi bangunan yang rubuh akibat gempa bumi di Lombok. GOOGLE/www.tempo.co
Oleh: Ana Mardiana

OPINI - Inna Lillaahi wa Inna Ilaihi Raaji’uun. Sesungguhnya segala sesuatu milik Allah SWTdan sesungguhnya semuanya akan kembali kepada-Nya. Ta’ziyah kepada saudara-saudara kita di Lombok yang ditimpa musibah gempa, Insya Allah mereka diberi kesabaran dan keikhlasan menerima musibah yang menjadi ketetapan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam al-quran yang artinya:

“Katakanlah (Muhammad), tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman." (TQS At-Taubah 51).

Manusia memang tidak berdaya menolak ketetapan Allah, karena bencana itu bisa datang kapan saja. Allah SWT berfirman: 

“Sebenarnya (bencana) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup menolaknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (TQS. 21-al-Anbiya’:40). 

Terjadinya gempa di Lombok mestinya dapat menyadarkan kita bahwa Allah juga tengah memberi peringatan kepada kita atas maksiat yang telah di lakukan.

Menyadari bahwa Indonesia memang berada tepat di batas-batas lempeng Eurasia, Hindia, Australia, dan Pasifik. Kita punya 129 gunung berapi aktif. Semua ini berpotensi gempa, longsor, tsunami dan erupsi yang mampu menghancurkan kehidupan seketika. Kita juga berada di persimpangan angin dan arus laut antara Asia-Australia dan antara Hindia-Pasifik.

Namun demikian syariah Islam telah mengatur bagaimana manusia berupaya mencegah malapetaka besar akibat dari kelalaiannya dalam menanggulangi bencana. Karena Allah pun menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di darat ataupun di laut adalah akibat ulah tangan manusia. Mereka memanfaatkan bumi ini tidak sejalan dengan ketentuan Allah SWT.

Gempa yang terjadi di Lombok per tgl 31 Agustus 2018, tercatat total korban meninggal dunia sebanyak lebih dari 500 orang. Total rumah rusak jumlah sementara tercatat sebanyak 70-an ribu dan total pengungsi sementara sebanyak lebihd ari 400 ribu jiwa. Sarana umum seperti sekolah, Rumah Sakit, Pasar, Mesjid banyak mengalami kerusakan.

Terkait hal tersebut, banyaknya korban jiwa, kerusakan sarana umum ini mestinya mengetuk pintu hati para pemimpin kita. Memang benar pemimpin kita telah menggelontorkan dana bantuan namun, mesti di ketahui bahwa bantuan itu tidak merata. Masih banyak tempat-tempat terpencil yang tidak tersentuh bantuan seperti di kecamatan Bayan, Kayangan, Gondang, Tanjung sampai Pemenang. Di sana orang krisis makanan, pasar toko tutup, perekonomian macet total, banyak anak-anak kedinginan karena kurangnya tenda, air bersih langka, rumah-rumah ambruk tak terurus. Korban luka tidak tersentuh dan terurus.

Sementara di sisi lain pemerintah menjanjikan Gaji 13 untuk PNS di tahun 2019. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan Pegawai Negeri Sipil (PNS) bakal kembali menerima Tunjangan Hari Raya dan gaji ke-13 pada tahun 2019. 

"Akan menggunakan kebijakan yang sama dengan tahun ini," ujar dia di Gedung JCC Senayan, Jakarta, Kamis, 16 Agustus 2018 lalu.

Kebijakan itu bukan hanya berlaku untuk PNS di kalangan kementerian dan lembaga, melainkan juga di daerah. Hanya saja, untuk daerah, tunjangan kinerjanya akan disesuaikan dengan kemampuan daerah. (Sumber: www.tempo.co)

Dan satu sisi Pemerintah menggelontorkan biaya untuk perhelatan acara Asian games yang begitu fantastis.

"Awalnya kami anggarkan 52 juta dolar US. Tapi kami berhasil efisiensi hingga 47 juta dolar. Itu total biaya untuk opening dan closing," ujar Deputi II Bidang Administrasi Pertandingan Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC) Francis Wanandi, saat konferensi pers usai pertandingan, dilansir dari salah satu media online nasional.

Rasanya ini tidak adil bagi masyarakat lombok. Saudara kita di Lombok menderita karena kurangnya bantuan dari pemerintah. 

Dalam pernyataannya, Presiden memastikan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan bagi para korban gempa. Namun, pemerintah akan terlebih dulu meninjau langsung di lapangan dan memberikan kepastian mengenai jumlah bantuan yang akan di berikan kepada para korban. 

"Kita akan melihat dulu keadaan, baru kita putuskan. Tetapi akan memberikan bantuan, Iya. Tapi jumlahnya belum di putuskan," ungkap Presiden, dikutip dari www.tribunnews.com beberapa waktu yang lalu.

Pernyataannya tersebut terkesan tidak sungguh-sungguh. Mengapa untuk perhelatan Asian Games mereka melakukan dengan maksimal, hingga menggelontorkan biaya sebesar itu? 

Dan mengapa untuk korban gempa yang masih banyak terisolir belum mendapat akses terhadap berbagai bantuan sungguh-sungguh dan bersegara mengupayakan?

Seorang pemimpin dan pemerintahannya punya kekuasaan untuk menginstruksikan semua stakeholder untuk segera melakukan tanggap darurat untuk melakukannya secara maksimal.

Gubernur NTB saat meninjau korban gempa Lombok yang meninggal dunia. GOOGLE/www.viva.co.id
Pemerintah hanya bisa memberikan instruksi dan informasi tanpa mampu menjamin langsung terwujud atau tidak.Semestinya sebagai seorang pemimpin mampu meriayah rakyatnya sesuai dengan tuntunan Islam. Tidak berat sebelah, tidak lamban dalam menanggulangi persoalan bencana alam.Mestinya pemimpin bisa mengambil contoh dari Rasulullah dan para Khalifah terdahulu.

Kejadian bencana tidak diposisikan sebagaimana pandangan Islam, sehingga berpengaruh terhadap langkah tindak. Sementara Rasulullah tempat kita mencontoh, telah menjelaskan perihal peristiwa bencana ini. Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata:

“Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.” Lalu, Nabi menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian… maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!”

Begitu juga dengan Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah:

“Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tidak akan bersama kalian lagi".

Begitu juga dengan cucu Umar bin Khatthab, yaitu ‘Umar bin Abdul Aziz, menuliskan kepada seluruh wali (gubernur) di masanya melalui surat pengumuman: 

“Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya".

Ini mempengaruhi langkah tindak pasca terjadinya gempa, yaitu penguasa akan memerintahkan semuanya (termasuk para pemimpin) melakukan muhasabah atau koreksi diri terhadap kelalaian, bertaubat sambil mengingat kemaksiatan apa yang dilakukan sehingga Allah menurunkan bencana alam tersebut. 

Hal ini juga menjadi penjaga kesadaran ruhiyah masyarakat, khususnya yang berada pada daerah rawan bencana alam untuk senantiasa menjaga ketaatan pada syari’ah dalam lingkup individu dan masyarakat. 

Karena bencana, jika telah datang waktunya, akan memusnahkan semuanya baik yang taat pada syariah maupun ahli maksiat. Kesadaran ruhiyah adalah bagian dari pengaturan urusan umat (politik). Karena Islam adalah harmoni aqidah (keimanan) dan pelaksanaan Syari’ah Islam.

Semoga pula, kehadiran di Presiden di Lombok, Ahad, 02 September 2018 (hari ini, red) bisa memberikan senyuman dan perbaikan yang adil untuk masyarakat gempa bumi di Lombok saat ini. Wallahua’lam. ***

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item