Pasca Panen Harga Bawang Merah Merosot, Petani Gelar Aksi di Lambu

Kegiatan unjuk rasa yang digelar di Kecamatan Lambu dalam menyikapi merosotnya harga bawang merah pasca panen saat ini. METROMINI/Dok
KABUPATEN BIMA - Menghadapi momen panen bawang pada bulan September 2018, petani bawang merah di Kecamatan Sape dan Lambu menjerit dan mengaku rugi. Pasalnya, harga bawang merah pasca panen sangat rendah diambil oleh pengumpul atau tengkulak. 

Menurut pemuda petani bawang di Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Fan Trotsky mengaku, anjloknya harga bawang merah bisa membunuh para petani. Apalagi, kelangkaan dan kenaikan harga pupuk membuat rakyat kian menderita dan mempertanyakan sikap pemerintah dalam memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi khususnya petani bawang saat ini. 

"Dalam menghadapi kesusahan yang dialami saat ini. Pihaknya akan menggelar demonstrasi dan mensuarakan lirih penderitaan petani bawang di Sape dan Lambu kepada Pemerintah Kecamatan Lambu," ujar Fan, belum lama ini.


Dia mengaku, fluktuasi harga di pasar tidak berpihak kepada petani. Dan harga bawang yang berada di bawah harga Rp10.ooo per kilogramnya ini membuat petani mengalami kerugian yang teramat sangat. 

"Sangat ironis dibalik melonjak dan membumbung tingginya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika dan di tengah itu pula harga nilai bawang merah anjok pasca panen pada periodesasi yang sekarang. Sungguh kondisi ini membuat banyak petani meradang," keluh dia.

Arif Rahman rekan Fan pun menuturkan. siapapun rejim yang berkuasa, kepentingan dan kesejahteraan petani tetap terpinggirkan. Karena rejim saat ini tidak terlahir dari rahim petani. Untuk keadaan ini, Arif meminta kepada penguasa untuk turun tangan langsung mengantisipasi anjloknya harga bwang merah yang tidak sesuai dengan ongkos produksi petani di tengah harga obat-obatan dan pupuk yang kian meninggi dan jarang bisa didapat mudah oleh petani. 

"Modal sepuluh juta petani menanam bibit bawang merah 300 kg. Di tengah harga bibit dan obat-obatan yang mahal, nilai bawang merah di bawah Rp10 ribu per kilogramnya membuat petani meradang dan merugi yang cukup besar. Pemerintah harus turun dan mengantisipasi keadaan ini," tegas Arif.

Ia meminta, Bupati Bima segera ambil langkah-langkah untuk menimalisirkan harga bawang saat ini. Pemimpin daerah harus cerdas dalam membangun kebijakan daerah di saat keadaan paceklik yang dialami petani. 

"Jangan senang makan saja, giliran cuci piring dan membantu petani seperti sekarang tidak tahu caranya dan cenderung melempar ke pusat yang bertanggung jawab atas kondisi ini," tandas dia. 

Seorang pemuda lainnmya, di Facebook yang bernama Duta Rakyat mengatakan sudah menggelar aksi dalam menghadapi masalah ini. Namun, aksi boikot jalan pakai bawang merah di Lambu itu pun  tak mempan untuk menggugah sikap penguasa dalam membantu petani bawang merah saat ini. 

Sementara itu, mantan Sekda Kabupaten Bima, Ir. Muchlis HMA mengatakan, sebaiknya petani bawang saat panen bersatu dan bersabar. Petani bisa mencari informasi harga bawang di luar daerah, Selain itu, Pemerintah Daerah dapat berperan sebagai regulator saat petani kejepit. 

"Selama ini petani dimain-mainkan oleh pedagang besar bila panen harga turun dan di saat mau nanam harga meroket," ujar Muchlis.


Sementara itu, menghadapadi rasa kekecewaan ini, Syahrullah Maulana mengungkapkan, jika pemerintah tak peduli terhadap petani bawang merah, ia pun menyarankan untuk memboikot proses pemilu yang sedang berlangsung di Kecamatan Sape dan Lambu. 

"Kalau pemerintah tak mendengar, kita boikot saja Pemilu di Sape dan Lambu. Persoalan merosotnya harga bawang ini masalah klasik yang tak pernah bisa dicari tahu solusi dan jawaban yang berpihak pada petani oleh pemerintah daerah," cetusnya.

Di sisi lainnya, pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima atau Bupati Bima yang dimintai jawaban maupun solusi atas penderitaan  yang dialami petani pasca panen bawang merah ini, sedang dikonfirmasi lebih lanjut. (RED)

Post a Comment Komentar Umum

Iklan Ideal Karaoke

Berita Terbaru

Fans Page Metromini

item